Senin, 29 September 2014

Benang kusut ber-Internet di Indonesia

Benang kusut ber-Internet di Indonesia | www.ras-eko.com - Sahabat pembaca yang budiman postingan ini saya buat harapannya kita semua yang hidup di Indonesia negara yang kita cintai ini mendapatkan akses internet yang mudah dan murah, pelayanan yang juga mudah dan tidak berbelit.


Benang kusut ber-Internet di Indonesia
Benang kusut ber-Internet di Indonesia


Kenapa saya bilang ber internet di Indonesia seperti benang kusut ya karena banyak faktornya.


1. Susahnya memasang jaringan internet melalui kabel telekomunikasi

Banyak sahabat-sahabat kita yang ada di Indonesia sangat sulit mengakses internet, kalaupun ada ongkos yang digunakan sangatlah mahal dan berbelit. Misalnya disini ditempat saya di kutai barat. saya harus mengambil kocek cukup banyak hanya untuk pasang speedy, kenapa ya karena jalur pelanggan yang di sediakan sudah full alias penuh, bayangkan saja untuk beberapa kecamatan hanya di sediakan 500 jalur. dan pas kebetulan saya daftar sudah tidak bisa pasang lagi. dan akhirnya saya inisiatif menelpon teknisi lapangan tanya-tanya sapa tau ada pelanggan yang sudah kena denda dan gak mau bayar sehingga bisa di gantikan dengan syarat kita membayarkan denda keterlamabatan orang sebelumnya. karena sangat berbelitnya ini banyak sahabat-sahabat kita hanya bisa menggunkan modem dengan kecepatan pas-pasan dan tergantung kondisi signal, dengan harga quota yang mahal.

2. Domain .ID yang sangat tidak terjangkau.

Sahabat pembaca yang budiman, domain negara kita yakni domain dot .id sangat harganya tidak sesuai dengan kondisi perekonomian kebanyak orang Indonesia kini yakni 500 Ribu rupiah. sehingga kita yang berkeinginan membuat blog dengan domain negara sendiri jadi terhambat. parahnya lagi nama domain harus sesuai nama KTP. banyak negara-negara di luar sana nama domain dijual dengan murah atau bahkan gratis. namun di Negara kita ya ampun mahal nya. (Baca juga daftar domain dot id)

3. ISP Kepastian hukumnya tidak jelas

Masih ingat dengan kasus yang menjerat Indar Atmanto dan IM2, IM2 dituduh mengkorupsi dana pembayaran untuk frekuensi 3G dan , padahal tidak ada keharusan sebuah Internet Service Provider (ISP) untuk memiliki ijin frekuensi 3G. Sebuah ISP dapat menyewa, secara sah, bandwidth ke operator 3G tanpa perlu ijin frekuensi 3G. Jadi pola bisnis IM2 maupun 300+ ISP lain di Indonesia sesuai dengan UU Telekomunikasi maupun praktek usaha telekomunikasi yang ada. Tidak ada hukum yang di langgar apalagi melakukan tindak pidana korupsi. IM2 hanya sebuah ISP dan menyewa bandwidth secara legal ke Indosat, tidak melakukan tindakan korupsi apapun dan tidak perlu mempunyai ijin frekeunsi 3G. Akibat dari keputusan MA yang tidak sesuai dengan UU / Pola Bisnis Telekomunikasi ini, maka 300+ Pimpinan ISP Indonesia terancam hukum pidana. Yang lebih menyedihkan lagi, Industri / Infrastruktur Internet di Indonesia akan terancam harus shutdown / dimatikan karena sebagian besar melanggar hukum. setelah sebagian besar internet di Shut down lalu apa yang bisa hakim lakukan? apakah hakim benar-benar mengerti tentang IT apa sudah minta rujukan dari pakar atau ahli sehingga seenaknya menjatuhkan vonis?

Jika hal itu terjadi apa yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap penduduknya yang sudah jutaan orang menggunakan Internet?

Mau daftar speedy susah pakai Modem ISP mau damatikan. bagaimana ini? padahal Internet adalah sarana telekomunikasi yang global dan segala informasi bisa didapatkan di Internet. Semakin cepat informasi yang kita dapat semakin maju juga berkembangan dan peradaban suatu bangsa. setelah kemarin disahkannya uu pilkada melalui dprd berimplikasi pada kemunduran demokrasi Indonesia, kini akan di mulai awal kemunduran Internet Indoneisa. Ada apa dengan bangsa ini ??





Benang kusut ber-Internet di Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.