Minggu, 01 Desember 2013

Dr. Lo Siaw Ging dokter panutan dokter Indonesia

terus terang saya tidak terlalu mengenal dr. Lo saya hanya membaca dari media-media berita di internet, namun demikian dengan informasi sedikit itu saya pribadi jadi respek kepada beliau dan sebagai seorang blogger ingin ikut me-share sedikit yang saya ketahui dari media itu.

Dr. Lo Siaw Ging (lahir di Magelang, 16 Agustus 1934; umur 79 tahun) adalah seorang dokter yang terkenal sosiawan yang berpraktek kota Solo. Ia pernah menjabat sebagai direktur di Rumah Sakit Kasih Ibu. Selain berpraktek di Rumah Sakit Dr. Oen (RS Kandang Sapi), ia juga membuka praktik di rumahnya di kawasan Jagalan, Solo. Dr. Lo terkenal sebagai dokter yang merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasien yang tidak mampu tidak dibebani biaya pengobatan. Biaya pembelian obat pun terkadang dibayari oleh Dr. Lo untuk pasiennya yang tidak mampu. Dr. Oen, senior Dr. Lo, juga dikenal sebagai sosok dokter yang dermawan di kota Solo.

banyak media online terkenal memberitakan dirinya "Tidak perlu dibesar-besarkanlah. Itu sudah saya lakukan dari sejak dulu. Menjadi dokter itu memang harus menolong yang sakit dan miskin. Kalau mau kaya ya jangan jadi dokter, tapi jadi pedagang," kata dr Lo, Sabtu (30/11/2013).

Itu adalah pesan dari ayahnya yang terus menjadi penyemangat bagi dr Lo untuk terus berkarya bagi para pasiennya.

"Saya selalu ingat pesan ayah saya, kalau ingin kaya jangan jadi dokter, tapi jadilah pedagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jangan menjadi dokter. Saya pun memilih menjadi dokter karena itu cita-cita saya dari sejak kecil," kata dr Lo.

Hal itu yang membuatnya memutuskan bahwa dirinya tidak akan mengenakan tarif kepada pasien yang miskin. Dr Lo mengaku, dirinya melihat bahwa para pasien miskin tidak perlu lagi dibebani dengan biaya pengobatan karena perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sudah berat.

"Saya katakan tidak usah bayar, uangnya buat beli beras saja," tuturnya tentang pengalamannya bertemu dengan pasien miskin.



Sikap tersebut ternyata tidak hanya berlaku saat melayani pasien di tempat praktiknya di Jagalan, Jebres, Solo. Sikap ini juga berlangsung saat dia bekerja di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Pihak rumah sakit mengakui, dokter Lo mempunyai dana sosial di RS untuk membantu pasien tidak mampu.

"Untuk jumlahnya belum tahu pasti berapa, namun ada dana sosial milik dr Lo pribadi yang digunakan untuk membantu pasiennya. Mungkin dana itu berasal dari gaji dokter Lo," kata dr CH Baskara, Humas Rumah Sakit Kasih Ibu.

Baskara menambahkan, memang pasien yang akan dibantu dokter Lo juga harus mengikuti prosedur rumah sakit terlebih dahulu. Terlebih lagi, dana tersebut adalah dana milik pribadi dokter Lo.

 Rumah dr Lo di Jalan Yap Tjwan Bing No 27, Jagalan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, tampak selalu dipadati warga yang mengantre untuk berobat kepada dr. Lo Siaw Ging. Setiap hari, dr Lo mulai buka praktik pukul 06.00 dan pukul 16.00. Saat siang, ia melayani pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu di Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Di rumah dr Lo tersebut, cerita tentang sosok lulusan Universitas Airlangga, Surabaya, mengalir dari mulut ke mulut. Kisah unik dan mengharukan hadir di antara kursi tunggu pasien.


"Saya dimarahi dr. Lo. Gara-garanya pas saya periksakan anak saya ke dokter karena sakit panas tinggi, lalu dokter marah ke saya kok baru sekarang dibawa ke dokter," kata Agung (29), warga Jagalan, Sabtu (30/11/2013).

Lain lagi dengan Kaila (30), seorang ibu muda asal Solo. Sudah beberapa kali dia memeriksakan buah hatinya, tetapi Lo enggan menerima bayaran. "Sudah langganan juga, tapi pas mau dibayar pasti ndak mau dan anak saya pasti sembuh," kata Kaila.

Hal tersebut ditanggapi enteng oleh Lo, yang setiap hari harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Ia selalu menanyakan kepada pasien, apakah memiliki uang untuk berobat atau tidak.

"Kalau tidak punya, saya menulis resep dan meminta mereka menebus di apotek atau rumah sakit langganan saya agar gratis. Biar nanti tagihannya saya bayar per bulannya," kata Lo sambil menunggu pasien masuk ke ruangannya.

Setiap bulan, Lo harus menanggung biaya sekitar Rp 6 juta hingga Rp 8 juta untuk menebus obat-obat itu. Lo enggan menjelaskan lebih detail tentang beban biaya yang harus ditanggungnya tersebut. Dia mengatakan, untuk membayar tagihan itu, ada sejumlah donatur yang membantunya.



Apakah semua pasien senang dengan pilihan Lo untuk tidak memasang tarif? Suami dari Maria Gan May Kwee tersebut mengatakan, ada juga pasien yang marah kepadanya.

"Pernah juga ada pasien yang tersinggung karena saya tidak mau menyebutkan tarif. Mereka mau saya sebut tarif," katanya sambil tertawa.

Alumni dari Universitas Airlangga tahun 1962 yang sempat mencicipi pendidikan di Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia ini pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, periode 1981-2004. Setelah pensiun dari kursi direktur, suami dari Maria Gan May Kwee tersebut tetap melayani pasien di rumah sakit yang sama dan di tempat praktiknya sekaligus rumahnya di Jagalan, Jebres, Solo, sampai kini.

Saat disinggung akan sampai kapan melayani pasien, pengagum sosok dr Oen tersebut mengatakan hingga sampai tubuhnya sudah tidak bisa bergerak. "Ndak tahu, selama tubuh saya masih bisa bekerja, saya akan melayani," katanya.

Sumber :

http://regional.kompas.com/read/2013/11/30/1501209/Dr.Lo.Tak.Terima.Gaji.dan.Malah.Bantu.Pasien.di.RS
http://www.tribunnews.com/regional/2013/12/02/kisah-dr-lo-di-solo-dokter-yang-tak-pernah-minta-bayaran-ke-pasiennya
http://id.wikipedia.org/wiki/Lo_Siaw_Ging
http://www.tribunnews.com/regional/2013/12/02/dr-lo-kalau-mau-kaya-jangan-jadi-dokter-jadilah-pedagang

Dr. Lo Siaw Ging dokter panutan dokter Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.