Minggu, 24 Maret 2013

Fanatisme Baik Buruk dalam sebuah Realita

Apa kabar sahabat pembaca, semoga kalian baik-baik saja. dalam beberapa waktu terakhir ini saya selalu perang terhadap pikiran saya sendiri sahabat, mengenai realita fenomena sosial yang kini sering terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Saya selalu memikirkan baik benar atau pun salah dan kurang baiknya sesuatu yang kini mewarnai kehidupan sosial kita, baik konflik antar suku, antar etnis, antar daerah, bahkan antar agama.


Saya berpikir kenapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Benar atau salahkah tindakan seperti itu, dan apa yang melatar belakanginya, saya kurang paham kenapa bangsa yang bertumpah darah dan berbahasa satu yakni bangsa Indonesia bisa seperti ini, saya selalu memikirkan itu dan browsing sana - sini di internet tapi apa yang saya temukan?, palah banyak sekali situs bernuansa sara, situs debat ini, situs debat itu, yang isinya menjelekan suku, agama, ras lain dan me muja-muja suku, agama, ras diri sendiri. Saya pun semakin bingung kenapa banyak orang terpelajar kembali menjadi manusia yang berpikiran sempit dan beku. Bahwasannya di dunia ini selalu banyak pandangan, bahwasannya di dunia ini selalu banyak filsafat yang baik dan toleran.
Kemudian saya menemukan pengertian menganei Fanatisme yakni sebuah keadaan di mana seseorang atau kelompok yang menganut sebuah paham, baik politik, agama, kebudayaan atau apapun saja dengan cara berlebihan (membabi buta) sehingga berakibat kurang baik, bahkan cenderung menimbulkan perseteruan dan konflik serius, fanatisme juga merupakan suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Menurut definisinya, Fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya. nah keadaan inilah yang kemudian membuat orang terpelajar menjadi buta dan berpikiran sempit.

Melihat dari sudut pandang agama yang saya anut, dan beberapa agama yang ada di dunia ini saya pikir pada dasarnya setiap agama memiliki rasa toleran kepada pemeluk agama lainya. bagaimana caranya berbuat baik, bagaimana caranya bersilahturahmi. Di sini saya tidak akan mejelaskan bukti-bukti, sahabat pembaca sendiri pasti sudah pada paham dan mengerti. jadi disini bukan lah agama yang membuat seseorang menjadi tidak terkendali atau menjadi seorang yang fanatik, lantas apa? ada di salah satu situs tentang psikologis disana saya menemukan ciri-ciri seorang yang fanatik yakni  ketidakmampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah, disini berarti fanatisme lebih kepada ketidakmampuan seseroang memahami dan menghargai pendapat orang lain, unsur egoisme, primodialisme dan bahkan etnosentrisme sangat berperan disini, Manusia memang memiliki sifat-sifat jelek seperti angkuh dan merasa benar sendiri. manusia seperti ini akan selalu terkurung dalam pikiran kebenaranya hingga lupa akan akal budi nya. sehingga yang muncul adalah kebenaran yang mutlak menurut meikirannya. fanatisme negatif seperti itu bisa muncul karena tidak di imbangi hati nurani dan budi pekerti serta nilai toleran dalam dirinya.

Secara garis besar fanatisme mengambil bentuk : (a) fanatik warna kulit, (b) fanatik etnik/kesukuan, dan (c) fanatik klas sosial. Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri, tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas sosial.

Lalu bagaimana merubah pola pikir orang yang seperti itu? akan sangat sulit membuka pikiran orang yang menganut fanatisme yang sudah akut, kecuali pikiran atau ide berpikir luas hadir dalam dirinya sendiri. Yang bisa kita lakukan adalah menjadi insan yang beragama yang baik toleran akan realitas sosial di masyarakat kita bahwa kita berbeda-beda bahwa kita bemacam warna, suku, ras, dan agama. namun jangan lah kita mencari-cari perbadaan apa yang ada pada diri kita, cari lah persamaan-persamaan yang ada dalam diri kita bahwa sesungguhnya kita itu sama-sama mahkluk ciptaan Tuhan, kita sama-sama yang memiliki akal budi dan juga nurani, bahwasannya kita merupakan orang yang sama-sama memiliki hak dan pendapat oleh karena itu kita harus toleran. mudah-mudahan bangsa Indonesia dan seluruh bangsa yang ada di dunia ini bersatu dan penuh toleransi niscaya kedamaian bisa saja terwujud. semoga.

sumber bacaan :

http://id.wikipedia.org/wiki/Fanatisme
http://www.psikoterapis.com/?en_apa-itu-fanatisme-%2C72


Fanatisme Baik Buruk dalam sebuah Realita Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.