Senin, 16 Januari 2012

kehilangan identitas kebangsaan dan solusinya

Nasionalisme (paham kebangsaan) yang menjadi identitas diri generasi muda Indonesia seolah hilang dan tidak berbekas. Baru beberapa saat tanggal 17 Agustus yang merupakan hari kelahiran Bangsa Indonesia dilalui dan 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila, kita sudah melihat banyak aksi-aksi anarkisme yang justru dilakukan oleh generasi muda bangsa Indonesia sendiri.
Seperti yang kita lihat dan yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu perseteruan siswa SMAN 6 Jakarta dengan jurnalis, tawuran anak-anak sekolah yang menggunakan senjata tajam di Jakarta, kerusuhan Ambon, kerusuhan di Bali, kerusuhan di Tiaka Kabupaten Morowali - Sulawesi Tengah, Bom bunuh diri di Gereja GBI di Solo-Jawa Tengah, dan yang terakhir dan sangat menggelitik adalah penyegelan Gereja Yasmin yang justru dilakukan oleh Walikota di Kabupaten Bogor.
Kondisi ini sudah sangat rawan dan jauh dari semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukan tidak mungkin hal ini seolah membuka peluang terjadinya perpecahan yang akan membahayakan masa depan bangsa dan keutuhan NKRI. Momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi sangat tepat untuk menggelorakan kembali semangat nasionalisme serta patriotisme di kalangan generasi muda kita.
Solusi untuk menyelesaikan permasalahan mengenai memudarnya nasionalisme generasi muda :
Perilaku anarkis seperti aksi tawuran, kerusuhan dan aksi bom bunuh diri seperti yang dilakukan oleh generasi muda dalam artikel tersebut menggambarkan bahwa moral serta rasa nasionalisme para pemuda Indonesia telah mengalami kemunduran atau degradasi. Kejadian-kejadian seperti itu seharusnya tidak dilakukan oleh para pemuda yang merupakan kaum intelektual dan sebagai penerus bangsa. Secara umum ada 2 faktor yang yang menyebabkan memudarnya rasa nasionalisme para pemuda Indonesia yaitu, faktor internal seperti kekecewaan pemuda terhadap kinerja pemerintah dan faktor eksternal seperti arus globalisasi yang membawa pengaruh negatif. Solusi-solusi yang tepat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut menurut saya antara lain:

a. Peran Keluarga
Rasa cinta tanah air dapat ditanamkan kepada anak sejak usia dini, oleh karena itu orang tua harus mampu memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalisme dan patriotisme terhadap bangsa Indonesia, memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa dan memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar.
b. Peran Pendidikan
memberikan pelajaran tentang pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dan juga bela Negara, menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap hari senin, memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional.


c. Peran Pemerintah
Menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme, seperti seminar dan pameran kebudayaan dan lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi pemuda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi.

Hubungan antara memudarnya rasa nasionalisme dan patriotisme terhadap kehancuran bangsa sangat erat. Memudarnya rasa nasionalisme dan patriotisme dapat mengancam dan menghancurkan bangsa Indonesia. Hal itu terjadi karena ketahanan nasional akan menjadi lemah dan dapat dengan mudah ditembus oleh pihak luar. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda dibutuhkan peran keluarga, pendidikan dan pemerintah. Oleh karena itu, diharapkan pemuda untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme terhadap negara Indonesia, karena pemuda adalah calon penerus perjuangan dan pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Dan diharapkan juga agar masyarakat dan pemerintah untuk lebih mengupayakan peningkatan nasionalisme dan patriotisme di kalangan pemuda.

kehilangan identitas kebangsaan dan solusinya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

2 komentar:

  1. nambahin
    aku ngalamin sendiri dan rasa nya sedih sekali.
    akhir bulan Mei dengan keputusan yang sangat berat aku coba untuk mandiri (red:beranikan ngekos) dengan 70% pertimbangan matang dan sisanya nekat alasan utamanya karena deket tempat kerja. Oh ya sebelumnya aku tinggal di daerah yang dulu terkenal rawan di jakarta tapi sekarang justru lebih aman & nyaman,, calo-calo,, narkoba,, maling2,, para copet,, di brantas tuntas.setiap pagi sebelum beraktifitas senyum sapa hangat tetangga selalu tercurah ^^.ini yang aku sangat suka dan bikin betah..sekarang aku sudah pindah, bisa dikatakan tempatnya gak seterkenal tempatku dulu rawannya. Tapi keadaan sebenarnya justru lebih parah,, para bajing loncat,, mafia,, copet dan teman2nya berkeliaran hampir disetiap tempat.Gak ada pelayanan ramah disetiap swalayan, gak ada senyum sapa,,keamanan yang gak tau minta pertanggung jawaban siapa,, kenyamanan berkendara gak bisa dirasakan ditambah polusi udara yang gak karuan,, belum sebulan di tempat ini tapi aku sudah merasakan gerahnya. Gerah gak ada keramahan,gerah gak ada sopan santun.Dan sepertinya aku pun bisa kehilangan nasionalismeku sendiri,, maaf bukan karena gak cinta tanah air ini.Tapi jujur aku sangat rindu Negara ku terdahulu yang disebut "gemah ripah lohjinawi".Keputusan ku yang berikutnya aku ingin pergi dari sini.. ingin mengabdi di negri yang bisa aku salurkan kebaikanku,, sebelum aku sendiri kehilangan jati diri sendiri.

    BalasHapus
  2. Semoga kerinduaanmu segera terwujud sahabat, kita doakan saja semoga Negara ini dan para pemimpinnya mengerti, dan ada perubahan kedepannya.

    BalasHapus

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.