Rabu, 19 Oktober 2011

7 unsur Budaya Lampung tengah ( Tugas Kuliah Pendidikan Multiculture)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang
Pada dasarnya Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang dari sabang sampai merauke, dan untuk melintasi satu pulau ke pulau yang lain kita akan melewati satu kawasan penyeberangan, dan daerah lampung adalah salah satunya. Dikarenakan hal tersebut maka lampung menjadi daerah yang sangat beragam budaya dan suku bangsa yaitu suku lampung, Jawa, Bali, Sunda, Bugis, Padang, Batak dan masih banyak lagi. Serta yang tak kalah potensi yang dimiliki pun cukup melimpah baik dari sektor perkebunan, pertanian, peternakan maupun perniagaan. Sektor inilah yang menjadi mata pencaharian masyarakat lampung.


Dengan dampak positif yang ada tentunya masih ada dampak negatif dari wilayah lampung yang berada di daerah penyeberangan yaitu jumlah penduduk yang makin meningkat di wilayah perkotaan yang tidak seimbang dengan wilayah pedesaannya. Di provinsi lampung terdapat beberapa kecamatan yang bahkan diantaranya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah perkotaan. Yang kedua semakin memudarnya budaya asli Lampung karena adanya akulturasi dan asimilasi antar budaya.

Lampung merupakan salah satu daerah transmigran, dengan adanya pendatang baru dari berbagai suku bangsa maka suku asli lampung merasa tersisihkan, hal itu yang menyebabkan budaya yang ada di lampung mulai memudar seiring dengan perkembangan zaman. Masyarakat asli lampung pun tersebar di beberapa kecamatan yang ada. Tapi dengan keragaman suku budaya yang ada mereka (lampung) dapat hidup berdampingan dengan masyarakat pendatang. Dan dalam wilayah kabupaten akan ditemui keragaman budaya yang ada pada masing-masing wilayahnya. Salah satunya adalah di wilayah kabupaten lampung tengah.

Dari latar belakang permasalahan yang ada di atas maka berikut ini akan dibahas keragaman budaya yang ada di kabupaten Lampung tengah dilihat dari Tujuh Unsur Kebudayaan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari dibuatnya penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui sejarah terbentuknya kabupaten Lampung Tengah.
2. Memberikan wawasan tentang perkembangan budaya di Lampung Tengah
3. Mengetahui keragaman budaya dilihat dari tujuh Unsur kebudayaan yang ada di kabupaten Lampung tengah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Letak Geografis
Lampung tengah adalah salah satu kabupaten yang terletak pada bagian tengah Propinsi Lampung, yang terletak pada kedudukan 104°35` sampai dengan 105°50` Bujur Timur dan 4°30” sampai dengan 4°15` Lintang Selatan, dan berbatasan dengan:
• Sebelah Utara dengan Kabupaten Lampung Utara
• Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesawaran,
• Sebelah Timur dengan Kab. Lampung Timur dan Kota Metro
• Sebelah Barat dengan Kab. Tanggamus dan Lampung Barat
Di daerah Kabupaten Lampung Tengah dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) unit topografi, yaitu :
1) Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ketinggian rata-rata 1600 m dpl.
2) Daerah dataran alluvial
3) Daerah rawa pasang surut
4) Daerah river basin, yaitu daerah aliran sungai (DAS) Way Seputih dan Way Sekampung.
Secara umum Lampung Tengah beriklim Tropis Humid dengan angin laut bertiup dari samudra Indonesia dengan kecepatan angin rata-rata 5,83 Km/Jam, memiki temperatur rata-rata berkisar antara 26° C - 28° C pada daerah dataran dengan ketinggian 30-60 meter. Temperatur maksimum yang sangat jarang dialami adalah 33° C dan juga temperatur minimum 22° C. Sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian 15-65 meter dpl dan mempunyai kemiringan lereng antara 0-2% (92,29%). Jenis tanah didominasi oleh jenis latosol dan podsolik

2.2 Sejarah Lampung Tengah
1. Zaman Pemerintahan Penjajah Belanda
Pada zaman pemerintahan Belanda, Kabuputen Lampung Tengah merupakan Onder Afdeling Sukadana yang ini terdiri atas 3 (tiga) distrik yaitu:
a. Onder Distrik Sukadana, terdiri atas Marga Sukadana, Marga Tiga, Marga Nuban dan Marga Unyai Way Seputih.
b. Onder Distrik Labuhan Meringgai, terdiri atas Marga Sekampung Ilir, Sekampung Udik, dan Marga Subing Labuhan.
c. Onder Distrik Gunung Sugih, terdiri atas Marga Unyi, Subing, Anak Tuha Dan Marga Pubian.
Onder afdeling Sukadana dikepalai oleh seorang Controleur berkebangsaan Belanda, yang pelaksanaannya dibantu oleh seorang Demang bangsa Pribumi. Masing-masing Onder Distrik dikepalai oleh seorang Asisten Demang.
2. Zaman Penjajahan Jepang
Pada zaman penjajahan Jepang, wilayah Kabupaten Lampung Tengah adalah wilayah Bun Shu Metro yang terbagi dalam beberapa Gun Shu, marga-marga dan kampung-kampung. Bun Shu dikepalai oleh seorang Bun Shu Cho, Gun Shu Oleh seorang Gun Shu Cho dan Kampung dikepalai oleh seorang kepala Kampung.
3. Zaman Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka dan dengan berlakunya Peraturan Peralihan pasal 2 UUD 1945, maka Bun Shu Metro berubah menjadi Kabupaten Lampung Tengah yang dikepalai oleh seorang bupati. Bupati pertama adalah Burhanuddin (1945-1948). Bertitik tolak dari hal tersebut, ditinjau dari aspek perkembangan organisasi pemerintahan maka pembagian wilayah Lampung atas Kabupaten-kabupaten terjadi pada zaman penjajahan Jepang.

4. Masa Pemerintahan Negeri (1953-1975)
Secara hukum pembentukan Kabupaten Lampung Tengah didasarkan atas Undang Undang Darurat No. 4 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Sumatera Selatan.

Pada masa ini pemerintahan Marga dibubarkan dan diganti dengan sistem Pemerintahan Negeri. Pemerintahan Negeri terdiri dari seorang Kepala Negeri dan Dewan Negeri. Kepala Negeri dipilih oleh Dewan Negeri dan Kepala Kampung. Pada masa ini di Kabupaten Lampung Tengah terdapat 9 (sembilan) Negeri yaitu Negeri Trimurjo, Negeri Metro, Pekalongan, Tribawono, Sekampung, Sukadana, Labuhan Maringgai, Way Seputih dan Negeri Seputih Barat.

Karena Sistem Pemerintahan Negeri dirasakan kurang serasi dengan Pemerintahan Kecamatan, maka pada Tahun 1972 Gubrnur Daerah Tingkat I Lampung mengambil kebijakan secara bertahap menghapus pemerintahan Negeri dengan jalan tidak lagi mengangkat kepala negeri yang telah habis masa jabatannya. Secara yuridis hapusnya Pemerintahan Negeri terjadi setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa.


5. Masa Otonomi Daerah (1999 s/d sekarang)
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999 tanggal 20 April 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tk. II Way Kanan, Kabupaten Daerah TK.II Lampung Timur dan Kota Madya Daerah Tk.II Metro, maka kabupaten Lampung Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Lampung Timur, Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah Sendiri. Konsekuensi logis dari pemekaran tersebut, Ibu kota kabupaten yang sebelumnya berkedudukan di Metro, dipindahkan ke Kota Gunung Sugih.

Setelah mengalami pemekaran yang sebelumnya terdiri atas 24 kecamatan menjadi 13 kecamatan definitive dan 14 Kecamatan persiapan. Pada Tahun 2001 terjadi pemekaran menjadi 26 kecamatan. Selanjutnya sejak Agustus 2004 dengan definitivenya kecamatan Anak Ratu Aji, maka jumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 27 Kecamatan dengan 276 kampung dan 10 kelurahan.
2.3 Sistem Kemayarakatan
Sistem kemasyarakatan yang ada di kabupaten Lampung Tengah tidak ubahnya seperti daerah-daerah yang lain yaitu di pimpin oleh seorang Bupati dan Wakil Bupati yang kantornya terletak di Kecamatan Gunung Sugih sebagai ibukota kabupaten Lampung Tengah. Dalam kabupaten terdapat 27 kecamatan yang dipimpin oleh Camat diantaranya:

1. Kecamatan Anak Ratu Aji
2. Kecamatan Anak Tuha
3. Kecamatan Bandar Mataram
4. Kecamatan Bandar Surabaya
5. Kecamatan Bangun Rejo
6. Kecamatan Bekri
7. Kecamatan Bumi Nabung
8. Kecamatan Bumi Ratu Nuban
9. Kecamatan Gunung Sugih
10. Kecamatan Kalirejo
11. Kecamatan Kota Gajah
12. Kecamatan Padang ratu
13. Kecamatan Pubian
14. Kecamatan Punggur
15. Kecamatan Rumbia
16. Kecamatan Selagai Lingga
17. Kecamatan Sendang Agung
18. Kecamatan Seputih Agung
19. Kecamatan Seputih Banyak
20. Kecamatan Seputih Raman
21. Kecamatan Seputih Surabaya
22. Kecamatan Seputih Mataram
23. Kecamatan Terbanggi Besar
24. Kecamatan Terusan Nunyai
25. Kecamatan Trimurjo
26. Kecamatan Way Pangubuan
27. Kecamatan Way Seputih

Secara administratif, pada setiap desa dikepalai oleh seorang lurah. Di dalam pekerjaan sehari-hari, kepala desa dan pamong desa mempunyai dua tugas pokok, yaitu tugas kesejahteraan desa dan tugas kepolisian untuk mejaga ketertiban desa. Lurah dipilih dari dan oleh penduduk desa sendiri, sesuai dengan tata cara yang berlaku. Secara keseluruhan nama jabatan petinggi desa pembantu lurah yang ada di beberapa desa di kecamatan adalah :
1. Carik, adalah yang bertugas sebagai pembantu umum dan sekretaris desa.
2. Keamanan, yang bertanggung jawab atas ketentraman lahir dan batin penduduk desa.
3. Kaum, yang mengurusi soal nikah, talak, rujuk, serta kegiatan religi lainnya dan juga perihal kematian.
Namun, dari beberapa kecamatan yang ada di kabupaten lampung tengah ada yang masih menggunakan sistem kemasyarakatan yang di sebut dengan banjar yaitu di kecamatan seputih mataram. Khususnya di Desa Wirata Agung, Darma Agung dan Pakte Bali yang penduduknya adalah bersuku Bali. Banjar merupakan bentuk kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah dan kesatuan sosial yang diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagaman yang sakral. Pusat dari banjar adalah bale banjar, dimana warga banjar bertemu pada hari-hari tertentu yaitu pada hari raya Tumpek setiap 15 hari sekali. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatan tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dari banjar sebagai suatu kepentingan, tapi juga lapangan kehidupan keagamaan.
Dari segi sistem perkawinan, di kecamatan Seputih Mataram berdasarkan pada kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang berlaku di desa masing-masing. Misalnya di Desa Wirata agung, sistem perkawinannya berpedoman pada tradisi-tradisi Hindu di Bali. Di daerah Anak Tuha suku Lampung sebelum upacara pernikahan dilakukan ada adat yang selalu dilakukan pria kepada sang gadis, yaitu “Larian” itu istilah didaerah ini atau pada umumnya disebut sebambangan. Dalam masyarakat lampung menggunakan adat Pepaduan yang ditandai dengan upacara adat untuk mengambil gelar kedudukan adat yang menggunakan alat upacara yang disebut pepadun. Pepadun merupakan singgasana yang digunakan dalam setiap upacara pengambilan gelar adat. Upacara ini disebut Caka Pepadun. Upacara tersebut dilakukan beberapa hari sesuai dengan tatanan adat lampung. Selain itu ada tarian siger pengunten untuk menyambut tamu pada acara-acara tertentu, seperti penyambutan kedatangan bupati atau gubernur.
Di kecamatan Terbanggi Besar terdapat beberapa masyarakat yang suku asli Lampung dalam acara pernikahannya masih menggunakan upacara pernikahan adat Lampung itu sendiri yaitu Begawi. Akan tetapi, biasanya masyarakat Lampung dari golongan atas lah yang masih menggunakan adat Begawi itu dalam melaksanakan upacara pernikahannya. Karena dalam melaksanakan upacara Begawi itu dana yang dikeluarkan tidaklah sedikit dan mahal.
Selain itu, bagi masyarakat yang bersuku Jawa masih ada beberapa yang dalam acara-acara pernikahannya masih menggelar acara kebudayaan Jawa. Begitu pula dengan suku-suku lainnya yang ada di kecamatan Terbanggi Besar ini. Hanya sebagian kecil masyarakat yang tetap mempertahankan nilai-nilai serta prosesi-prosesi sesuai dengan adat masing-masing suku.
Akan tetapi, sebagian besar masyarakat yang ada di kecamatan Terbanggi Besar ini sudah mulai meninggalkan tradisi-tradisi sesuai dengan adatnya masing-masing. Mereka lebih cenderung mengadakan acara yang lebih modern lagi dan bersifat nasional. Mereka lebih memilih untuk menggunakan upacara yang bersifat umum dan modern dari pada menggunakan acara adat. Hal ini dapat disebabkan karena faktor lingkungan dan juga dianggap lebih praktis serta menarik. Selain itu karena biasanya terjadi percampuran dua atau beberapa budaya dalam pernikahan, maka masyarakat lebih cenderung menggunakan acara pernikahan yang bersifat umum atau nasional dan yang lebih modern. Mulai dari tata cara atau adat pernikahan itu sendiri, pakaian pernikahan, makanan, serta musiknya, masyarakat lebih memilih yang lebih modern.

Dari segi hukum, penduduk tunduk pada peraturan-peraturan nasional dan daerah. Namun ada juga aturan-aturan adat yang berlaku seperti di desa Wirata Agung, Darma Agung dan Pakte bali yang berkaitan dengan upacara keagamaan, upacara kematian, pernikahan dan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi Bali.

2.4 Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Lampung Tengah sangat beragam dari bertani, berternak, berdagang, buruh, pegawai negeri dan masih banyak lagi yang lainnya. Di masing-masing kecamatan yang ada di lampung tengah mempunyai mata pencaharian yang beragam sesuai dengan kondisis alam dan potensi daerahnya masing-masing, diantaranya:
1. Kecamatan pubian
Pada masyarakat di daerah pubian dan sekitarnya mata pencahariannya berupa bertani/berkebun, hasil pertanian dan berkebun yang didapat masyarakat Pubian yaitu palawija, karet, sawit, kopi, lada dan coklat. Yang kedua sebagai buruh (buruh tani), pekerja buruh ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan seperti ibu-ibu rumah tangga sebagai kerja sambilan. Misalnya buruh koret diladang atau di PT. Perkebunan di lingkungan sekitar. Yang ketiga sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di daer ah pubian dan sekitarnya, PNS terkadang masih memiliki pekerjaan sambilan, seperti berkebun.

Bahkan tidak jarang dari mereka yang gajinya habis, malah jarang ke sekolah, justru berladang, hal itu dikarenakan gaji yang didapat dari pekerjaan sebagai Pegawai Negeri belum dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Yang keempat sebagai pembuat batu bata dan genting, para pembuat batu bata dan genting biasanya dilaukan oleh satu keluarga/ keluarga besar dibantu dengan pekerja-pekerja upah, genting atau bata tersebut digunakan untuk membangun rumah mereka namun jika jumlah produksi genting atau batu bata yang dihasilkan nanyak maka sisanya akan dijual sebagai pemasukan pendapatan. Yang selanjutnya adalah mata pencaharian berupa berburu babi, namun hal tersebut jarang dilakukan pada saat ini karena mulai beralih ke bidang pertanian.

Dan yang uniknya lagi di daerah Pubian masih ada beberapa yang mata pencahariannya sebagai tukang rakit/sampan dari bambu. Sampan atau rakit tersebut digunakan untuk melewati sungai karena daerah pubian masih ada sungai yang belum menggunakan jembatan. jika hendak melewati sungai tersebut, kendaraan harus dinaikkan ke rakit, dengan membayar Rp 1.000. Bahkan oleh pihak pemerintah di daerah tersebut akan dibangun jembatan, namun oleh tukang rakit kebijakan tersebut ditentang, hal itu dikarenakan menjadi tukang rakit adalah salah satu mata pencahariannya.


2. Kecamatan Padang ratu
Bertani merupakan mata pencaharian terbesar diwilayah ini, pekerjaan pertanian dilakukan dengan membuat kebun kering (tegalan) atau membuat sawah. Selain tanaman padi, masyarakat pedesaan biasanya menanam ketela pohon, jagung, ketela rambat, kedelai, kacang tanah, dan lain-lain. Selain bertani, berdagang adalah mata pencaharian yang banyak dilakukan diwilayah ini, terlihat banyaknya pasar besar di wilayah padang ratu, pasar biasanya buka tiga kali dalam seminggu. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai pembuat batu bata, pembuat tempe, berternak dan lain sebagainya.

3. Kecamatan Seputih banyak
Sistem mata pencaharian di daerah ini sebagai besar adalah bertani. Untuk masyarakat yang bertempat tinggal tidak jauh dari pasar, biasanya mereka berdagang. Tetapi saat ini, para petani sudah mulai beralih pada tanaman perkebunan seperti; karet dan sawit. Sistem produksi sudah mulai menggunakan cara modern. Untuk distribusi di daerah ini sudah baik, karena ada beberapa pabrik besar yang dapat membeli hasil panen dari petani. Untuk masyarakat yang tinggal di daerah yang masih pedesaan, biasanya mereka bekerja sebagai petani. Mereka menanam padi, singkong dan di daerah tertentu ada juga yang menanam sayuran. Pusat perekonomian di kecamatan seputih banyak ini, berada di desa tanjung harapan. Pasar yang menjadi roda perekonomian terbesar kecamatan seputih banyak terletak di desa tanjung harapan.
4. Kecamatan Seputih mataram
Sebagian besar penduduk Kecamatan Seputih Mataram bermata pencaharian sebagai seorang petani dan pekebun. Namun terdapat juga penduduk yang memilki usaha sampingan seperti berdagang dan berternak.

Lahan pertanian di Seputih Mataram dapat digolongkan menjadi 2, yaitu lahan sawah irigasi dan lahan ladang yang kering. Lahan sawah dapat ditanami padi sebanyak dua kali dalam setahun. Sedangkan lahan kering dapat ditanami singkong, jagung dan kacang-kacangan sepanjang tahun kecuali pada saat musim kemarau tiba.

Kebun yang terdapat di kecamatan Seputih mataram adalah kebun karet milik pribadi. Perkebunan karet ini mulai dirintis oleh para petani sekitar sejak 6 tahun yang lalu, dan sekarang para petani sudah mulai mendapatkan hasil dari kebun mereka, banyak karet yang sudah mulai disadap. Usaha sampingan seperti berdagang banyak juga dilakukan oeh penduduk, terutama penduduk yang rumahnya dekat dengan pasar. Di Kecamatan Seputih Mataram terdapat 2 pasar yang sangat membantu perekonomian penduduk sekitar, yaitu Pasar Merapi dan Pasar Pa’s.

Peternakan juga banyak dilakukan oleh penduduk Seputih Mataram yang sifatnya masih tradisional. Seperti contohnya di Desa Wirata Agung, semua keluarga dalam desa tersebut pasti memilki usaha sampingan berternak sapi. Selain berternak sapi penduduk di Seputih Mataram juga berternak kambing, ayam kampung, ayam pedaging, kambing dan babi.
Komoditi utama dalam lahan sawah tentunya adalah padi, sedangkan pada lahan kering adalah singkong. Berternak merupakan usaha sampingan penduduk yang mayoritas diterapkan di Kecamatan Seputih Mataram.

5. Kecamatan Anak Tuha
Mata pencaharian daerah kecamatan Anak Tuha mayoritas adalah petani, selain itu, pedagang, buruh pabrik dan bangunan, dan yang terakhir PNS,
1) Petani
Alat bertani berupa Cangkul, arit/clurit/sabit, golok, garukan padi, bajak, gobang, kerbau atau sapi jika membajak dengan trdisional.
Sistem bertani menggunakan alat-alat tradisional dan modern (Campuran) Para petani tersebut biasanya meminjam pada orang yang memiliki atau menjul pupuk dan kebutuhan petani lainnya terlebih dahulu. Ketika mereka panen barulah membayar pupuk dan kebutuhan yang lainnya itu. Sehingga roda perekonomiannya berjalan dengan baik.
2) Buruh Pabrik dan Bangunan
Alat yang digunakan seperti Mesin penggiling padi, Palu, Sugu (alat untu mempermak/menghaluskan kayu), ampelas, paku, martil/palu, obeng, tang, gergaji, kikir,dll. Para buruh pabrik dan bangunan itu bekerja keras sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi keburuhan keluarganya.
3) Pedagang
Para pedagang biasanya menjual dagangannya da pasar-pasar dan di sekolahan. Selain itu ada juga yang berada dirumahnya sendiri seperti warung sayuran dan makanan ringan. Mereka menjadi pedagang guna membantu perekonomian keluarga agar lebih baik lagi.
4) Pegawai Negeri Sipil
Mayoritas pegawai negeri di lingkungan tempat tinggal saya adalah Guru dan Sekertaris Desa. Biasanya pegawai negeri hidupnya lebih terjamin dibandingkan dengan pekerja lainnya

6. Kecamatan terbanggi besar
Mata pencaharian masyarakat di kecamatan Terbanggi Besar ini cukup beragam. Mulai dari petani, pedagang, industri rumah tangga, dan pengerajin mebel. Selain itu masyarakat di kecamatan ini juga sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pegawai kantor swasta dan pemerintah. Sebagian kecil lainnya masyarakat di kecamatan Terbanggi Besar ini adalah peternak sapi, kambing, ikan dan ayam. Serta ada yang bekerja sebagai buruh dan memiliki kegiatan wiraswasta lainnya.
Jenis pertanian yang ada di kecamatan Terbanggi Besar ini yaitu meliputi jenis pertanian sawah dan berladang. Adapun jenis komoditas pertaniannya yaitu padi, singkong, jagung, kelapa, mantang serta beberapa jenis buah-buahan.


7. Kecamatan Nunyai
Di kecamatan ini terkenal dengan pabrik- pabrik yang sudah bertaraf internasional. Terdapat pabrik nanas yaitu Great Giant Peneaple, Pabrik gula yaitu Gunung Madu Plantation, pabrik singkong BW. Sehingga warga masyarakat di sekitar pabrik tersebut bekerja sebagai karyawan maupun sebagai buruh.


Berdasarkan penjelasan tentang mata pencaharian masyarakat dibeberapa kecamatan yang ada di kabupaten Lampung Tengah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian masyarakat lampung didasarkan pada potensi alam yang dimiliki oleh masing-masing kecamatan. Di daerah sekitar sungai masyarakat setempat memanfaatkan rakit sebagai alat penyeberangan yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian. Di daerah PT atau Pabrik masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai buruh ataupun karyawan pabrik. Sedangkan di daerah persawahan atau perkebunan masyarakatnya mempunyai mata pencaharian sebagai petani, baik padi, jagung, singkong dan lain sebagainya.


2.5 Peralatan
a. Peralatan Umum
Masyarakat kini sudah mulai mengikuti perkembangan zaman dan teknologi modern karena mereka tidak mau dikatakan “ketinggalan zaman”. Dikalangan pemuda dan pemudi mayoritas sudah memiliki handphone sendiri-sendiri untuk berkomunikasi dengan keluarga, teman, bahkan pacar. Tidak hanya pemudanya saja, tapi orang tuapun sudah banyak yang menggunakan telepon genggam.

Penggunaan computer hanya beberapa orang saja yang bias mengoperasikan karena didaerah itu masih jarang rental computer atau warnet, sehingga masyarakatnya masih kurang tau bagaimana penggunaan computer. Jadi masyarakatnya belum terlalu banyak tau tentang dunia maya seperti facebook dan twitter. Tapi ada juga yang sudah mahir tapi tidak terlalu mengeksposnya.
dari segi transportasi disalah satu kecamatan yaitu Seputih Mataram sudah sangat memadai, misalnya transportasi darat. Serta terdapat bus yang dipakai untuk kendaraan pengangkut penumpang dengan rute Seputih Mataram – Raja Basa dan rute Seputih Mataram – Kasui. Terdapat juga jasa-jasa travel yang memudahkan penduduk seputih berpergian ke luar daerah. Di kecamatan Terbanggi Besar sebagian besar masyarakatnya lebih cenderung menggunakan alat transportasi seperti mobil, motor, becak, ataupun sepeda karena tidak dilalui oleh jalur rel kereta api dan tidak berada di daerah yang memiliki sungai-sungai yang luas.


b. Peralatan Pertanian
Dari segi peralatan pertanian tergolong sudah modern juga, yakni dibuktikan dengan telah banyaknya petani yang menggunakan mesin traktor modern untuk mengolah lahan pertaniannya yang sebelumnya petani hanya menggunakan cangkul kemudian beralih ke bajak sapi. Dan semakin berkembangnya zaman mengolah lahan sawah menggunakan bajak mesin dan sampai pada saat ini menggunakan traktor.
Namun peralatan pertanian seperti cangkul, arit, sengkui, dan okrok yang sifatnya tradisional masih tetap juga dipakai dengan intensitas pemakaian yang jarang, kecuali arit yang memang sangat diperlukan bagi para peternak sapi dan kambing untuk mencari rumput dan dedaunan.


c. Peralatan Rumah Tangga
Dari segi perumahan tergolong sudah modern juga, dibuktikan dengan hampir keseluruhan rumah penduduk sudah menggunakan bata dan beton. Tetapi di daerah yang masih desa, dan berada jauh dari jalan raya. Bentuk rumah mereka masih dalam bentuk tradisional dengan kamar mandinya diluar, dan setiap orang yang mau mandi harus menimba air terlebih dahulu karena mereka tidak menggunakan pompa air. Ada pula beberapa rumah yang masih mempertahankan gaya rumah tradisional seperti yang ada di Desa Wirata Agung kecamatan seputih mataram, rumah dengan gaya khas Suku Bali yang dilengkapi dengan ukiran-ukiran khas Bali.
Kecamatan seputih banyak, karena masyarakat yang ada di kecamatan ini mayoritas adalah suku jawa dan suku bali. Yang masih dapat kita temui adalah rumah tua dari suku jawa. Alat-alat rumah tangga yang digunakan juga sebagaian besar sudah menggunakan alat-alat modern. Semenjak adanya konversi dari minyak tanah ke gas, di daerah lampung tengah ini sudah jarang ditemui masyarakat yang memasak menggunakan kayu bakar. Tetapi masih ada yang menggunakan alat-alat rumah tangga yang masih relatif tradisional, ada yang menggunakan gentong tanah untuk memasak sayur dan kendi sebagai tempat air minum.
Jadi, peralatan dan perlengkapan hidup yang ada di wilayah Lampung Tengah tergolong sudah modern. Mulai dari peralatan dan perlengkapan rumah tangga, transportasi, peralatan pertanian serta peralatan dan perlengkapan hidup lainnya. Kemodernan peralatan dan perlengkapan hidup ini merupakan akibat dari keterbukaan masyarakat yang mau menerima masuknya pengaruh teknologi modern.


d. Pakaian
Selanjutnya adalah pakaian, pakaian masyarakat yang ada di Lampung Tengah adalah jenis pakaian yang biasa digunakan masyarakat pada umumnya. Pakaian adat hanya digunakan saat acara-acara adat saja. Seperti acara pesta pernikahan, hajatan, dan acara-acara adat lainnya. Dalam masyarakat Lampung tengah pakaian adat biasanya banyak digunakan di sebuah acara pernikahan baik pernikahan menurut adat lampung, jawa, bali sebagai berikut:

1) Pakaian adat Jawa
Pada pakaian adat jawa pengantin perempuan memakai baju kebaya dan sanggul, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.
Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.
Sedangkan busana di kalangan pria, khususnya kerabat keraton adalah memakai memakai baju beskap kembang-kembang atau motif bunga lainnya, pada kepala memakai destar (blankon), kain samping jarik, stagen untuk mengikat kain samping, keris dan alas kaki (cemila). Busana ini dinamakan Jawi Jangkep, yaitu busana pria Jawa secara lengkap dengan keris
2) Pakaian Adat Lampung
Untuk adat Lampung dalam keseharian laki-laki Lampung mengikat kepalanya dengan kikat. Bahannya dari kain batik. Bila dipakai dalam kerapatan adat dipadukan dengan baju teluk belanga dan kain. Lelaki muda Lampung lebih menyukai memakai kepiah/ketupung, yaitu tutup kepala berbentuk segi empat berwarna hitam terbuat dari kain tebal, apalagi kalau ingin bertemu dengan gadis. Untuk mengiring pengantin dikenakan kekat akkin, yaitu destar dengan bagian tepi dihias bunga-bunga dari benang emas dan bagian tengah berhiaskan siger, serta di salah satu sudutnya terdapat sulaman benang emas berupa bunga tanjung dan bunga cengkeh.
Sebagai penutup badan dikenakan kawai, yaitu baju berbentuk teluk belanga belah buluh atau jas. Baju ini terbuat dari bahan kain tetoron atau belacu dan lebih disukai yang berwarna terang. Tetapi sekarang banyak digunakan kawai kemija, yaitu bentuk kemeja seperti pakaian sekolah atau moderen. Pemakaian kawai kemija ini sudah biasa untuk menyertai kain dan peci, ketika menghadiri upacara adat sekalipun.
Bagian bawah mengenakan senjang, yaitu kain yang dibuat dari kain Samarinda. Bugis atau batik Jawa. Tetapi sekarang telah dikenal adanya celanou (celana) pendek dan panjang sebagai penganti kain.
Kaum wanita Lampung sehari-hari memakai kanduk/kakambut atau kudung sebagai penutup kepala yang dililitkan. Bahannya dari kain halus tipis atau sutera. Selain itu, kaum ibu kadangkadang menggunakannya sebagai kain pengendong anak kecil.
Lawai kurung digunakan sebagai penutup badan, memiliki bentuk seperti baju kurung. Baju ini terbuat dari bahan tipis atau sutra dan pada tepi muka serta lengan biasa dihiasi rajutan renda halus. Sebagai kain dikenakan senjang atau cawol. Untuk mempererat ikatan kain (senjang) dan celana di pinggang laki-laki digunakan bebet (ikat pinggang), sedangkan wanitanya menggunakan setagen. Perlengkapan lain yang dikenakan oleh laki-laki Lampung adalah selikap, yaitu kain selendang yang dipakai untuk penahan panas atau dingin yang dililitkan di leher. Pada waktu mandi di sungai, kain ini dipakai sebagai kain basahan. Selikap yang terbuat dari kain yang mahal dipakai saat menghadiri upacara adat dan untuk melakukan ibadah ke masjid.
Khusus bagi wanita yang baru menikah, pada saat menghadiri upacara perkawinan mengenakan kawai/kebayou (kebaya) beludru warna hitam dengan hiasan rekatan atau sulaman benang emas pada ujung-ujung kebaya dan bagian punggungnya. Dikenakan senjang/ cawol yang penuhi hiasan terbuat dari bahan tenun bertatah sulam benang emas, yang dikenal sebagai kain tapis atau kain Lampung. Sulaman benang emas ada yang dibuat berselang-seling, tetapi ada yang disulam hampir di seluruh kain.
Untuk memperindah dirinya dipergunakan berbagai asesoris terbuat dari emas. Selambok/rattai galah, yaitu kalung leher (monte) berangkai kecil-kecil dilengkapi dengan leontin dari batu permata yang ikat dengan emas. Kelai pungew, yaitu gelang yang dipakai di lengan kanan atau kiri, biasanya memiliki bentuk seperti badan ular (kalai ulai). Pada jari tengah atau manis diberi cincin (alali) dari emas, perak atau suasa diberi mata dari permata. Dikenakan pula kalai kukut, yaitu gelang kaki yang biasanya berbentuk badan ular melingkar serta dapat dirangkaikan. Kalai kukut ini dipakai sebagai perlengkapan pakaian masyarakat yang hidup di desa, kecuali saat pergi ke ladang.
Di kepala mempelai wanita bertengger siger, yaitu mahkota berbentuk seperti tanduk dari lempengan kuningan yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan lekukan di depan dan di belakang (siger tarub), yang setiap lekukannya diberi hiasan bunga cemara dari kuningan (beringin tumbuh). Puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu kembang hias berupa mahkota berjumlah satu sampai tiga buah. Mahkota kecil ini mempunyai lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Pada umumnya terbuat dari bahan kuningan yang ditatah.
Mempelai laki-laki mengenakan kopiyah mas sebagai mahkota. Bentuknya bulat ke atas dengan ujung beruji tajam. Bahannya dari kuningan bertahtakan hiasan karangan bunga. Badannya ditutup dengan sesapur warna putih berlengan panjang. Dipakai celanou (celana) panjang dengan warna sama dengan warna baju.
3) Pakaian adat Bali
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing masyarakat bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya. Namun pakaian adat yang sering dipakai di daerah Lampung tengah yaitu:
a. Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:
• Udeng (ikat kepala)
• Kain kampuh
• Umpal (selendang pengikat)
• Kain wastra (kemben)
• Sabuk
• Keris
• Beragam ornamen perhiasan
• Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap
b. Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
• Gelung (sanggul)
• Sesenteng (kemben songket)
• Kain wastra
• Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
• Selendang songket bahu ke bawah
• Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
• Beragam ornamen perhiasan
• Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
Di Kecamatan Terbanggi Besar terdapat masyarakat keturunan India dan China. Cara berpakaian sehari-hari tidak ubahnya seperti masyarakat lain pada umumnya. Namun ketika ada suatu acara pernikahan mereka tidak lagi menggunakan upacara pernikahan sesuai dengan adat masyarakat India pada umumnya. Pakaian adatnya pun tidak lagi menggunakan pakaian pengantin seperti pada masyarakat India aslinya. Tetapi cukup dengan menggunakan pakaian kebaya modern untuk wanita, sedangkan bagi pria cukup dengan menggunakan pakaian setelan jas saja. Sedangkan bagi masyarakat keturunan Cina, dalam acara pernikahannya masih menggunakan tata cara atau menggunakan adat istiadat leluhurnya. Akan tetapi pakaian yang digunakan biasanya hanya menggunakan gaun pengantin bagi wanita, dan setelan jas untuk pria.

Daerah Lampung Tengah memiliki beberapa Sarana dan prasarana umum juga diantaranya:
1) Jalan dan Jembatan
Upaya peningkatan prasarana jalan dan jembatan menjadi prioritas pembangunan di Kabupaten Lampung Tengah yang diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas arus barang dan jasa antar daerah baik di dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah maupun lintas kabupaten sehingga hampir semua kampung di Kabupaten Lampung Tengah dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat.n Sampai dengan tahun 2008 parasarana jalan dan jembatan di Kabupaten Lampung Tengah adalah sebagai berikut :
Jalan Tanah : 855,97 Km
Jalan Onderlagh : 1.149,83 Km
Jalan Penetrasi : 696,55 Km
Jalan Hotmix : 339,55 Km
Jembatan : 202 Unit


2) Listrik
Jaringan listrik di Kabupaten Lampung Tengah dikelola oleh 2 (dua) badan usaha yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Koperasi Listrik Pedesaan (KLP) Sinar Siwo Mego. Jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh PLN dan KLP sampai dengan tahun 2004 adalah sebesar 196.297.723 KWH dan 77.468.244 KWH.

3) Telekomunikasi
Perkembangan jaringan Telekomunikasi di Kabupaten Lampung Tengah sudah menjangkau seluruh kecamatan bahkan sudah dikembangkan warung seluler di 285 Kampung/Kelurahan dengan menggunakan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).

4) Lembaga Keuangan

Keberadaan lembaga keuangan/perbankan sangat penting dalam menunjang perekonomian daerah. Saat ini di Kabupaten Lampung Tengah terdapat 16 Kantor Bank dengan 34 Unit yang tersebar diseluruh wilayah. Dari 16 Kantor Bank tersebut 11 unit termasuk bank umum (10 Unit berbentuk Konvensional, 1 Unit syariah)

5) Hotel, Restoran dan Travel
Fasilitas hotel di Kabupaten Lampung Tengah berjumlah 8 Unit (kelas Melati) dengan kapasitas 139 tempat tidur. Sedangkan restoran dan rumah makan berjunlah 66 Unit yang sebagian besar berada di Kecamatan Terbanggi Besar.
Karena posisinya dilaui oleh jalan lintas sumatra, maka industri jasa transportasi tumbuh dengan subur. Hampir semua perusahaan Bus yang melayani wilayah Sumatera-Jawa, mempunyai perwakilan di Kabupaten Lampung Tengah.

2.6 Sistem Pengetahuan
Sistem pengetahuan yang ada di daerah Lampung Tengah sudah tidak dipengaruhi oleh mitos-mitos. Masyarakatnya telah banyak menyadari tentang pentingnya pendidikan pada masa sekarang. Di lampung Tengah terdapat beebrapa sekolah mulai dari PAUD, SD, SMP dan SMA untuk perguruan tinggi terdapat Universitas Terbuka.
Minat orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada saat ini tergolong sangat tinggi. Memang tidak dipungkiri bahwa fenomena buta huruf masih ada. Hal ini terjadi pada kaum nenek dan ibu yang sudah berumur tua. Fenomena putus sekolah juga masih ada, dikarenakan memang dari motivasi belajar dari anak tersebut rendah dan faktor lingkungan dan teman sebaya yang mempengaruhi.
Di daerah Anak Tuha ada beberapa anak yang tidak mengenyam pendidikan bukan karena tidak mampu, tetapi karena kurangnya minat anak-anak yang ada didesa tersebut dan pemikiran orang tua yang masih kuno. Apalagi anak perempuan, banyak sekali yang hanya mengenyam pendidikan sampai SD dan SMP. Padahal jika dilihat orang tua mereka mampu menyekolahkan anak perempuannya ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka menganggap bahwa perempuan itu nantinya hanya akan mengurusi rumah tangga. Karena tidak bersekolah maka banyak anak-anak yang menikah muda dan menjadi ibu rumah tangga sejak kecil. Sedangkan laki-laki kebanyakan lulusan SMA dan tidak banyak yang meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, mereka lebih senang bekerja dan mencari uang keluar daerah seperti ke Jakarta, Batam, Palembang, Dll

2.7 Sistem Kepercayaan
Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan berpegang teguh pada agama kita akan mendapatkan kehidupan yang tenteram dan damai. Untuk itulah bagi umat beragama untuk selalu beribadah kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Dalam masyarakat lampung tengah sudah mulai berkurang mengenai kepercayaan terhadap mitos-mitos yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Berikut adalah beberapa agama yang dianut oleh masyarakat di wilayah Lampung Tengah:
1. Islam
Penduduk Lampung Tengah mayoritas memang beragama Islam dan lebih dari tiga perempat penduduknya beragama islam. Dan yang telah menjadi tradisi di umat Islam adalah saling bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Begitu pula umat Islam di wilayah Lampung Tengah saat idul Fitri tiba mereka berbondong-bondong pergi bersilaturahmi ke tempat saudara masing-masing. Di wilayah kecamatan anak Tuha terdapat kepercayaan bahwa setiap bulan “suro” harus mengadakan acara suroan yaitu menggelar acara wayang kulit. Jika tidak desa itu akan mendapat bencana. Hal itu terus dilakukan selama bertahun-tahun


2. Katolik dan Kristen
Agama katolik dan Kristen adalah agama minoritas di wilayah lampung tengah. Hanya beberapa penduduk saja di setiap kecamatan yang beragama Kristen dan katolik.

3. Budha
Agama ini sangat jarang ditemui di wilayah lampung tengah. Dalam satu kecamatan paling sedikit hanya terdapat satu wihara bahkan ada kecamatan yang tidak mempunyai wihara sebagai tempat ibadah bagi umat Budha.

4. Hindu
Masyarakat yang beragama hindu yang sangat jelas terlihat jika dibandingkan dengan agama-agama yang lain. Hal ini dikarenakan terdapat ciri khas pada tempat tinggal penduduk yang beragama hindu yaitu terdapat tempat peribadatan umat hindu di sekitar rumah, dengan ukiran dan motif-motif khas masyarakat Bali. Masyarakat hindu banyak dijumpai di kawasan Seputih Raman, Seputih Mataram dan Seputih Banyak.


2.8 Seni
Di wilayah Lampung tengah kesenian sangatlah beragam. Mulai dari seni musik, tari, maupun seni lukis/pahat. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan kesenian di dalam kabupaten Lampung Tengah. Kesamaannya yaitu terdapat di seni modernnya yaitu jika ada suatu acara pasti menggunakan orgen ataupun keyboard untuk menggiringi musik. Dan yang membedakan keseniannya adalah karena adat istiadat tiap-tiap wilayah berbeda sesuai dengan tradisi masyarakat terkait.
1) Seni Musik
Di kabupaten Lampung Tengah seni musik dapat berupa seni musik tradisional maupun seni musik modern. Pada musik tradisional alat-alat yang digunakan masih sangat tradisional berupa kendang, kenong, rebana dan lain-lain. Alat musik ini biasanya digunakan saat mengiringi acara adat pada masing-masing suku.

Sedangkan musik modern sudah menggunakan keyboard, gitar elektrik, drum, dan sound sistem. Campur Sari, Orgen, Layar Tancap, Band merupakan jenis seni musik yang sering ditampilkan di kabupaten Lampung Tengah. Acara-acara resmi seperti hajatan pernikahan sekarang pun sudah banyak yang menampilkan Band serta Orgen Tunggal. Karena masyarakat berfikir tentang kepraktisan dengan biaya seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil musik yang seperti aslinya. Sehingga seni musik berupa campur sari, sintreng mulai pudar oleh arus modernisasi.
2) Seni Tari
Sedangkan masyarakat orang jawa atau yang lain lebih sering menggunakan kesenian yang umum dan sering dilakukan oleh masyarakat sekitar, seperti Kuda Lumping, Kesenian tersebut juga terkadang digunakan oleh masyarakat Lampung Tengah untuk memeriahkan acara yang akan diadakan. Ketika ada keluarga yang menyelenggarakan pesta pernikahan dan hiburannya adalah Kuda Lumping banyak sekali anak-anak yang menonton pertunjukannya. Apalagi jika pertunjukannya hingga malam hari, anak muda didaerah ini rela keluar malam dan menempuh jarak yang tidak dekat untuk melihat pertunjukan Kuda Lumping. Tidak hanya Kuda Lumping saja tetapi kesenian yang lain juga begitu

Selanjutnya di Desa Wirata Agung kecamatan seputih mataram, kesenian tradisioanal khas Bali masih sangat dilestarikan seperti kesenian gong, tari-tarian, drama, dan kesenian membaca kidung. Kesemua kesenian ini biasanya dipentaskan pada saat ada upacara keagamaan seperti acara piodalan atau memperingati hari jadi suatu pura tertentu. Kesenian-kesenian khas Jawa seperti Jaranan dan Sintren juga sering dipentaskan di desa-desa seperti Desa Pa’o, Pajar Mataram, Pa’u, Pa’s, Varia Agung dan Banjar Agung. Kesenian-kesenian tersebut sering dipentaskan pada saat ada acara pernikahan dan khitanan.

Sedangkan masyarakat bali di daerah seputih raman sering mengadakan pertunjukan seni tari yaitu Joget Bumbung dan barong. Tarian bumbung diiringi dengan musik khas Bali dan kostum yang dipakai pun merupakan pakaian adat bali pada umumnya. Saat tarian berlangsung penari dapat menarik salah satu penonton menggunakan selendang yang di pakai untuk ikut menari bersamanya. Saat pertunjukan telah usai penonton tersebut memberikan sejumlah uang kepada penari tadi sebagai tanda terima kasih atau sering disebut uang saweran. Uniknya tarian ini tidak dipentaskan di atas panggung melainkan hanya pelataran terbuka.

3) Seni Rupa atau Pahat
Seni Rupa atau pahat di Kabupaten Lampung tengah sangat berkembang pesat. Ukiran-ukiran khas suku bali di rumah maupun kerajinan mebel oleh masyarakat-masyarakat tertentu yang digunakan sebagai salah satu mata pencaharian. Seni ukir kayu atau pahat sangat diminati oleh masyarakat setempat karena selain indah seni ukir kayu atau mebel juga tahan lama.

Sedangkan kesenian yang sudah mulai luntur di Desa Wirata Agung Seputih mataram adalah kesenian menulis aksara bali. Banyak para muda-mudi yang tidak paham dengan penulisan aksara Bali, hal ini dikarenakan tidak adanya mata pelajaran muatan lokal aksara Bali yang diselenggarakan di SD maupun Sekolah Menengah di desa tersebut.


2.9 Bahasa
1. Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional bangsa Indonesia. Setiap warga negaranya dituntut untuk dapat berbahasa Indonesia sesuai dengan aturan yang telah tertera di Undang-Undang Dasar Indonesia. Bahkan salah satu syarat untuk menjadi warga negara Indonesia adalah dapat berbahasa Indonesia. Di beberapa kecamatan yang ada di Lampung Tengah bahasa Indonesia telah menjadi bahasa sehari-hari. Alasannya adalah beragamnya suku pada daerah tersebut contohnya adalah terbanggi Besar. Dalam daerah tersebut terdapat suku lampung, jawa, Bali, Padang, batak, China dan India. Agar dapat berkomunikasi dengan baik maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Sedangkan di daerah pedesaan bahasa Indonesia jarang digunakan, karena penduduk yang telah lanjut usia biasanya tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik. Dan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-harinya adalah bahasa suku masing-masing.

2. Bahasa Lampung
Di lingkungan masyarakat Gunung sugih sebagian besar masyarakat pribumi asli yaitu masyarakat lampung yang tentunya masih kental dengan bahasa aslinya yakni bahasa lampung. Sebagaimana diketahui, bahasa lampung terbagi dalam dua dialek, yaitu dialek A dan dialek O. Dan masyarakat di gunung sugih khususnya dam lampung tengah pada umumnya menggunakan dialek O dalam bahasa kersehariannya.

Sedangkan bahasa Lampung yang digunakan oleh masyarakat Lampung yang ada di kecamatan Terbanggi Besar ini ialah bahasa Lampung yang berdialek Nyo atau yang sering disebut dengan dialek O. Dan yang diajarkan disekolah-sekolah pun bahasa lampung yang berdialek O. Karena sebagian besar masyarakan Lampung yang berdomisili di kecamatan Terbanggi Besar ini ialah masyarakat Lampung yang berdialek O. Jadi sebagian besar bahasa Lampung yang digunakan ialah bahasa Lampung yang berdialek O.

Ada pula daerah yang masyarakatnya adalah asli suku lampung asli yaitu di desa Negara Bumi Ilir, bahasa yang digunakan adalah bahasa lampung dalam kehidupan sehari-hari. Di kecamatan Anak Tuha ketika berbicara dengan sesama orang lampung bahasa yang digunakan adalag bahasa lampung. Orang lampung di daerah anak tuha kebanyakan dapat menggunakan bahasa jawa karena banyak tetangga yang mayoritas orang jawa, tetapi jarang sekali orang jawa bisa menggunakan bahasa lampung. Karena mereka menganggap sulit untuk mempelajarinya, sedangkan orang lampung dengan mudah mempelajari bahasa jawa. Hal itu yang menimbulkan bahasa daerah lampung semakin jarang digunakan. Mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang lain. Alasannya adalah semua orang mengerti bahasa Indonesia.

Di daerah Haji Pemanggilan kecamatan Anak Tuha system bahasa yang digunakan adalah campuran, mereka menggunakan bahasa jawa dan lampung sesuai dengan siapa mereka berbicara.
Contoh Aksara Lampung adalah sebagai berikut yang disebut dengan huruf induk dan Anak huruf Kaganga ada 12 buah. Adapun nama dari masing-masing anak huruf itu adalah sebagai berikut:

1. Anak huruf yang terletak diatas huruf terdiri dari:

a. Ulan
b. Bicek
c. tekelubang : ang
d. rejenjung : ar
e. datas :an

2. Anak huruf yang terletak dibawah huruf terdiri dari:
a. bitan : dan
b. tekelungau : au
3. Anak huruf yang terletak di kanan huruf terdiri dari:
a. tekelingai : ai
b. keleniah : ah
c. nengen : tanda huruf mati

3. Bahasa Jawa
Didalam pergaulan hidup sehari-hari di masyarakat jawa, mereka mempergunakan bahasa Jawa sebagai penutur. Menurut penuturannya, untuk mengucapkan bahasa Jawa, seseorang harus memperhatikan serta bisa membedakan keadaan orang yang diajak bicara maupun yang sedang dibicarakan. Perbedaan itu berdasarkan usia atau status sosialnya. Sebab pada prinsipnya, jika di tinjau dari krateria tingkatannya bahasa daerah ini terdiri dari bahasa Jawa Ngoko dan Krama.
Berbahasa Jawa Ngoko di pakai bagi orang yang telah di kenal akrab, terhadap orang lebih muda usianya serta lebih rendah derajat atau status sosialnya. Lebih khusus lagi adalah bahasa yang di sebut Ngoko Lugu dan Ngoko Andap. Sedangkan bahasa Jawa Krama digunakan terhadap orang yang belum di kenal akrab tapi sebaya baik umur maupun derajat. Dapat juga di pakai bagi yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Ada pula bahasa Krama Inggil yang terdiri dari sekitar 300 kata digunakan untuk menyebutkan nama-nama anggota badan, benda milik, sifat, aktivitas dan emosi-emosi dari orang lebih tua maupun tinggi derajat sosialnya.

Selain itu, ada juga penuturan yang di sebut bahasa Kedaton atau Bagongan, bahasa Krama Desa dan bahasa Kasar. Di lingkungan setempat, terutama dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Jawa di Kabupaten Lampung Tengah, bahasa yang digunakan lebih banyak menuturkan bahasa Jawa Kasar atau Jawa Pasaran. Penuturan ini lebih gampang di mengerti dan sering di pakai di dalam bercakap-cakap. Bahkan tidak sedikit suku lain mampu bercakap-cakap mempergunakan bahasa Jawa tersebut.

4. Bahasa Bali
Sedangkan di lingkungan Seputih Raman, Seputih Mataram masih menggunakan Bahasa Bali. Di seputih mataram hanya 3 desa yang menggunakan bahasa bali, yaitu desa Wirata Agung, Darma Agung dan Pakte Bali. Berikut adalah contoh bahasa bali yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga desa tersebut, yaitu:
ingat “a” diakhir kata dibaca “e”, jadi bahasa Bali anda akan terlihat lebih natural.
lakar kija? = mau kemana?
punapi gatra? = apa kabar?
adan tiang Ketut = nama saya Ketut
buin mani = besok
dija? = dimana?
matur suksma = terima kasih
melali = jalan-jalan
sampun = sudah
jani = sekarang
jam kuda = jam berapa
sampun ngajeng? = sudah makan?

Sedangkan Desa Pa’o, Pajar Mataram, Pa’u, Pa’s, Varia Agung dan Banjar Agung dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa jawa. Ada keunikan yang khas apabila antara orang Jawa dan Bali bertemu dan berbincang-bincang, mereka biasanya tidak akan menggunakan bahasa Indonesia tetapi menggunakan bahasa jawa untuk berbincang-bincang.

5. Bahasa Sunda
Di Kabupaten Lampung Tengah terdapat masyarakat suku Sunda namun jumlahnya tak sebanyak suku Jawa. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Mereka juga awalnya adalah transmigran yang ditempatkan di beberapa kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Dilingkungan setempat, mereka menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa percakapan. Pemakaiannya dikenal atas tiga tingkatan, yaitu: bahasa Sunda lemes, sedang dan kasar. Bahasa Sunda lemes sering digunakan untuk berhubungan dengan orang tua, orang yang dituakan ataupun yang dihormati dan disegani. Bahasa Sunda sedang dipakai antara orang setaraf, baik tingkat umur maupun status sosial. Sedangkan bahasa Sunda kasar dipergunakan oleh atasan terhadap bawahan, juga sering digunakan oleh menak terhadap cacah dan terhadap sesama mereka yang sesuku.

Pola kebudayaan Sunda masih tampak dilingkungan masyarakat suku Sunda yang bermukim di Kabupaten Lampung Tengah. Kenyataan itu terlihat dari bahasa daerah yang dituturkan, sistem kekerabatan serta kebudayaan yang berkembang dilingkungan mereka. Beberapa kesenian tradisional baik berupa bebunyian maupun tari-tarian acapkali digelar saat ada prosesi penting.

Jadi, Meski sebagian besar berpenghuni penduduk asli pribumi, di gunung sugih juga terdapat masyarakat pendatang yang sudah menetap dan berdomisili cukup lama, seperti suku jawa dan sunda. Dengan adnya suku-suku pendatang ini tentu menambah ragam bahasa yang ada di gunung sugih karena suku-suku pendatang ini masih menggunakan bahasa aslinya dalam keseharian meski sudah berdomosili di lampung

Akan tetapi, apabila mereka berkomunikasi dengan orang yang berbeda suku, maka Bahasa Indonesia yang digunakan. Akibat dari masyarakat yang berada dikecamatan ini terdiri dari berbagai macam suku, maka Bahasa Lampung malah lebih jarang digunakan oleh masyarakat yang asli suku Lampung. Karena terpengaruh oleh lingkungan, maka bahasa asli Lampungnya sudah memudar. Jadi, bahasa asli Lampung sudah mulai agak ditinggalkan oleh masyarakat karena karena masyarakatnya lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

2.10 Perbandingan Lampung Tengah dengan Kabupaten lainnya
Dari pembahasan tentang sejarah serta tujuh unsur kebudayaan yang ada di Kabupaten Lampung Tengah maka dapat diketahui perbedaan dan persamaan antara satu kebupaten dengan kabupaten yang lainnya. Yang pertama perbandingan antara tujuh unusr kebudayaan yang ada di Lampung Tengah dengan kabupaten Lampung Barat serta Kota Madya Metro. Dilihat dari segi sistem kemasyarakatan, masyarakat Lampung Barat pada umumnya adalah suku Lampung sehingga acara-acara adat dilaksanakan berdasarkan tradisi suku lampung yang ada, baik acara pernikahan, khitanan maupun kegiatan adat yang lain sedangkan didaerah Lampung Tengah acara-acara tersebut sudah jarang dilakukan oleh masyarakat suku Lampung di Lampung tengah.

Yang kedua dilihat dari sistem mata pencaharian, masyarakat Lampung Tengah adalah penghasil perkebunan terbesar baik tebu maupun singkong. Karena potensi alam yang dimiliki oleh kabupaten Lampung Tengah adalah dibidang pertanian dan perkebunan yang diolah oleh pabrik-pabrik mertaraf Internasional sedangkan didaerah Kota Madya Metro mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai Pegawai Negeri serta Petani (namun masih sangat sedikit). Dan di daerah Lampung Barat masyarakatnya mempunyai mata pencaharian bertani, berkebun terutama damar dan sebagai nelayan.

Peralatan yang dipakai dalam masyarakat lampung tengah sangat beragam dari yang tradisional sampai dengan yang modern. Peralatan tradisional seperti tungku kayu dan peralatan rumah tangga yang terbuat dari batok kelapa mulai ditinggalkan dan beralih ke kompor dan bahan-bahan yang terbuat dari plastic ataupun keramik. Begitu pula di wilayah Kota Madya Metro semua peralatan baik dari sektor pertanian, perkebunan, dan peralatan rumah tangga telah modern. Sedangkan di wilayah kabupaten Lampung Barat masih ada yang menggunakan tungku kayu dan alat-alat yang terbuat dari batok kelapa namun intensitas pemaiannya telah berkurang. Peralatan yang dipakai untuk bertani dan berkebun pun masih menggunakan alat yang tradisional terutama yang digunakan untuk memanen dammar.
Seni merupakan hasil cipta rasa dan karsa manusia. untuk itu di setiap daerah pasti mempunyai corak atau khas tersendiri. Di Lampung Tengah seni tari, seni pahat dan seni musiklah yang mendominasi. Peralatan-peralatan yang digunakan sudah modern yaitu keyboard drum dan gitar. Seni tari yang di wilayah Lampung tengah Sering ditampilkan oleh suku Bali saat uparaca-upacara adat maupun hajatan. Sedangkan di wilayah Lampung Barat seni musik dan seni tari yang ada digelar oleh masyarakat suku lampung sebagai penduduk mayoritas di lingkungan tersebut.
Dan yang selanjutnya adalah bahasa. Di wilayah Lampung Tengah terdapat berbagai macam suku bangsa sehingga untuk saling berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman banyak yang menggunakan bahasa Indonesia. Namun di wilayah Lampung barat bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah bahasa lampung dialek A. di beberapa wilayah Lampung tengah terdapat beberapa suku lampung yang bahasanya menggunakan dialek O. namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa saat warga yang berbeda suku saling betemu maka bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.


BAB III
KESIMPULAN


Dari pembahasan di atas maka sapat disimpulkan bahwa kabupaten Lampung Tengah telah ada sejak zaman Penjajahan Belanda dan budaya yang ada mulai berkembang ke arah modernisasi. Dilihat dari tujuh unsur kebudayaan setiap kecamatan mempunyai budaya yang sangat beragam. Kabupaten Lampung Tengah memiliki 27 kecamatan yang tersebar di seluruh penjuru. Sistem mata pencahariannya sangat beragam baik dari sektor pertanian, perdagangan maupun pegawai negeri. Peralatan, sistem kemasyarakatan, bahasa, seni, sistem pengetahuan telah banyak berubah mengikuti perkembangan zaman, seperti peralatan masyarakat Lampung Tengah telah menggunakan peralatan yang modern serta 7 unsur budaya lainnya telah berubah ke arah modernisasi. Serta religi yang di anut oleh masyarakat lampung Tengah seperti halnya masyarakat lainnya pada umumnya.


DAFTAR PUSTAKA


http://wikipedia.ac.id
http://lampungtengah.ag.id

7 unsur Budaya Lampung tengah ( Tugas Kuliah Pendidikan Multiculture) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.