Jumat, 20 Mei 2011

Buruh dari waktu ke waktu.

Oleh:
Eko Budi Santoso)*

Dari matahari pagi yang menyegarkan hingga matahari disiang hari yang membakar kulit dan di akhiri dengan matahari sore yang mudah – mudahan diiringi angin sepoi-sepoi. Itulah kehidupan buruh , bahkan dimalam haripun mereka tetap giat bekerja. Uang recehan yang mereka kumpulkan dari detik ke detik, jam demi jam, hari demi hari, peluh, tetes, dan tenaga yang selalu diperah demi sesuap nasi, kehidupan seorang istri, dan kehidupan anak – anaknya. Perjuangan yang tak akan pernah usai.
Buruh adalah komponen terbawah dalam suatu komunitas profesi namun profesi ini yang jumlahnya sangat besar dan tidak boleh diremehkan atau pun direndahkan karena peranan nya yang sangat penting bagi pembangunan Negara dan mereka juga pada hakikatnya adalah sama seperti profesi lainnya yang memiliki hak dan tanggungjawab Buruh pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik secara jasmani maupun rohani. Dari generasi ke generasi , peranan buruh bagi kemajuan perekonomian negara Indonesia sangatlah penting bahkan semua Negara di dunia ini memerlukan buruh, walaupun ada sebagian kecil yang sudah digantikan oleh mesin-mesin tetapi tetap saja dunia ini membutuhkan buruh.
Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak sumber daya manusia berupa tenaga buruh merupakan Negara yang kaya raya, namun pada kenyataannya masih saja belum mampu menyerap seluruh tenaga buruh yang ada ataupun upah yang diberikan kurang pas atau tidak sesuai standart kelayakan upah. Setiap awal tahun akan selalu terjadi pertentangan antara serikat buruh apapun itu dan pengusaha – pengusaha yang mempekerjakan buruh sebagai penggerak berjalannya suatu perusahaan tersebut. tentang berapa upah yang suauai di berikan untuk seorang buruh tiap bulannya agar bisa kebutuhan hidup istri dan anak – anak buruh. biasa pertemuan antara serikat buruh dan pengusaha dan di fasilitasi oleh dinas tenaga kerja kabupaten atau kota atau propinsi. besarnya upah yang “pantas” diterima para buruh setiap bulannya Biasanya besaranya hanya berkisar antara 1 juta - 1.2 juta-an. Dan ini pun hanya berlaku di wilayah perkotaan. sehingga upah ini tidak berlaku untuk buruh yang berada di pedesaan, kurang begitu jelas mengapa ini bisa terjadi toh mereka semua sama – sama buruh, atau mungkin saja mereka menganggap biaya hidup buruh di kota dengan yang berada di desa berbeda. biasanya para buruh di pedesaan hanya menerima upah kisaran antara Rp.25.000- 50.000 untuk satu harinya. dan upah pun kadang di bayarkan setelah panen sawah atau ladang telah di panen.

Kalau kita cermati uang yang Rp.1.200.000. bisa untuk apa saja bagi para buruh yang telah
bekeluarga. sedangkan kebutuhan hidup saat ini lumayan banyak. ini contoh kasar pengeluaran seorang buruh dengan 2 anaknya yang masih balita.

Kebutuhan pokok : Beras 25 kg = 25 x Rp.8000 = Rp.200.000
kontrakan = Rp.300.000.
sayur mayur danlai -lain = 30 x Rp.30.000. = Rp.900.000
susu untuk anak dan lain -lain = Rp.300.000.
belanja harian, semisal rokok, untuk suami atau bedak untuk istri dan 2 orang anak balitanya = 30 x 4 x Rp.5000 = Rp.600.000.
Kebutuhan sekunder = Belanja pakaian setiap 1 bulan sekali = 4 x Rp. 100.000
= Belanja untuk Hiburan yaitu jalan-jalan, komunikasi(pulsa HP), 4 x Rp.100.000 = 400.000.
Untuk hidup dengan pengeluaran di atas saja dan hidup di kontrakan maka seorang buruh akan memerlukan uang Rp.3.100.000.
Para buruh tidak berharap samasekali untuk memiliki rumah sendiri atau tabungan hari tua pendidikan anak, kesehatan, hiburan dan tabungan. karena dengan uang Rp.1.200.000. jangankan membeli rumah, kebutuhan lain semisal membeli baju untuk istri dan bahkan baju sendiripun tidak terbeli, karena dengan upah hanya segitu , hanya pas untuk makan anak istri saja. Tapi ada satu hal yang harus kita ingat sebagai seorang buruh yaitu Upah yang mereka terima adalah upah yang paling bersih dan halal 100%. karena Upah yang buruh terima berasal dari titik-titik keringat yang telah mereka keluarkan dengan semua tenaga nya, tidak ada istilah suap apalagi korupsi. Dan jika da buruh yang ingin memiliki penghasilan lebih banyak dari mereka pun merantau ke luar negeri, demi mendapatkan peningkatan kualitas hidup mereka, jadilah mereka TKI – TKI yang merantau ke negeri orang. Kemiskinan adalah belenggu utama negeri ini, ditambah lagi dengan pemerintahan yang masih belum saja bersih dari lingkaran setan yang dinamakan KKN , makin terpuruklah negri ini. Dan bagai manakah nasib para buruh kini, dari waktu ke waktu mereka berharap akan kelayakan hidup, menanti janji para penguasa, merindukan akan keadilan itu. Mungkinkah itu hanya sekedar harapan.

*) Mahasiswa PKn FKIP UNILA , Aktifis PMII Komisariat UNILA

Buruh dari waktu ke waktu. Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.