Selasa, 05 April 2011

MELESTARIKAN NILAI BUDAYA Mempertahankan Jati Diri Etnik/Sukubangsa Kamoro

Oleh Martinus Muyapa *

Papua memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa. Silzer, P.J. and Helya Heikkinen (1991) menyebutkan bahwa Provinsi Papua terdapat 255 etnik /suku bangsa. Keanekaragaman etnik/suku bangsa tersebut tentu memiliki keberagaman dalam unsur - unsur universal pada kebudayaan. Kesenian (seni tari, ukir, seni suara dan memahat) adalah unsur-unsur kebudayaan disamping bahasa, sistim religi, organisasi sosial, system bercocok tanam, mata pencaharian, system peralatan teknologi, dan system pengetahuan.
Sering orang bertanya: apakah yang khas dengan Mimika? Maka orang akan mengatakan: Alamnya. Luar biasa memang yang namanya Alam Negeri ini. Entah itu tanahnya, lautnya, sungainya, iklimya, hutannya, kehadiran PT. Freeport Indonesia-nya bahkan keunikan etnik/suku bangsa pribumi sebagai penghuni dan pemiliknya.
Suku Kamoro adalah salah satu etnik/suku bangsa Papua yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua, di kawasan ujung timur Indonesia yaitu Mimika. Dari segi bahasa, mereka bersaudara dengan suku Asmat yang tinggal di sebelah timur yang sangat terkenal karena kesenian mereka. Penduduk Kamoro memiliki kesamaan bahasa dan berbagai ciri kebudayaan dengan etnik/suku bangsa Asmat dan suku Sempan misalnya Mbitoro suku Kamoro dan Bisj suku Asmat, keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan para leluhur yang baru saja meninggal dunia.
Kekhasan etnik/suku bangsa Kamoro berupa seni memahat dan ukiran tentunya menjadi perhatian semua pihak baik Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika maupun PT. Freeport Indonesia serta Lembaga Adat. Dalam catatan penulis, keperhatinan PT. Freeport terhadap pewarisan budaya Kamoro telah menyelenggarakan festival Kamoro Kakuru sebanyak 3 (tiga) kali yaitu tahun 1998 di Desa Hiripau, tahun 1999 di gedung Kesenian Timika Indah dan tahun 2000 di Desa Pigapu tepi sungai Wania. Kal Muller adalah konsultan PT. Freeport Indonesia yang menjadi motor penggerak penyelenggaran Festival Kamoro Kakuru bersama Lembaga Masyarakat Kamoro.
Kamoro Kakuru hendaknya dilakukan sebagai ajang bergengsi bagi suku bangsa Kamoro dalam pewarisan budaya kepada generasi berikutnya. Menurut hemat penulis, kegiatan festival Kamoro Kakuru yang dilakukan selama 3 kali berturut-turut belum memberikan nilai plus dari segi ekonomi bagi pemahat pada khususnya dan etnik/suku bangsa Kamoro pada umumnya. Karena ditengah maraknya festival itu terdapat keluhan para seniman patut didengar. Keluhan yang dituturkan oleh ketua Sanggar Budaya Yamate Kamoro (Piet S. Nawatipia) yang mengatakan banyak orang selalu menikmati hasil seni dan budaya, tetapi senimannya sendiri hanya mendapat keringat saja tanpa memperoleh penghargaan berupa uang untuk menopang ekonomi rumah tangganya. (Timika Pos, 04 Oktober 2000).
Menyongsong Hari Ulang Tahun Mimika ke – 10, Pemerintah Daerah sedang melakukan berbagai kegiatan lomba, pertandingan, kegiatan sosial bahkan salah satu kegiatan yang menggembirakan bagi etnik/suku bangsa Kamoro terutama bagi seniman (pemahat) adalah memecahkan Rekor Pemahat dan Ukiran Terbesar atau Museum Rekor Indonesia (MURI). Semarak peringatan HUT Kabupaten Mimika akan di warnai kolaborasi cultural para pengukir lokal yang siap memecahkan dua rekor kategori Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yakni kategori pemahat terbanyak dan kategori ukiran patung terbesar pada puncak acara. Panitia HUT telah menyiapkan 1.075 pemahat dan pencatatan rekor pemahat patung terbesar untuk ukiran patung Mbitoro. ( Timika Express, 17 Maret 2011).
Terkait dengan akan memecahkannya dua rekor kategori Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menyongsong HUT Mimika Ke – 10, mendapat tanggapan yang serius dari kalangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Mimika. “Saya lebih mendukung jika selama ini Pemerintah Daerah membuat suatu pembinaan bagi industri kecil yang bergerak di bidang memahat dan sekaligus menyediakan pasar bagi mereka,” kata Allo Rafra, Anggota Komisi B DPRD Mimika. (Radar Timika, 16 Maret 2011).
Mimika memiliki potensi ekologis dan cultural yang mutlak dilestarikan, membutuhkan campur tangan semua pihak baik pemerintah daerah Kabupaten Mimika, PT. Freeport Indonesia dan Lembaga Masyarakat Kamoro (Lemasko). Seni ukir/memahat, seni suara, dan seni tari menjadi salah satu sektor pendukung bidang pariwisata (daya tarik wisatan mancanegara dan domestik) sehingga berdampak pada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah, disamping meningkatnya pendapatan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, pihak yang berkompeten harus melakukan berbagai upaya untuk melindungi dan melestarikan nilai-nilai budaya yang tercermin dalam memahat dan mengukir sebagai hasil karya manusia Kamoro. Sejumlah upaya yang penulis sarankan, adalah:
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI)
Papua adalah pulau yang memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni dan budaya dengan pengembangan-pengembangannya yang memerlukan perlindungan Hak Cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut.
Dalam area yang lebih kecil, yakni seni dan budaya, kedudukan HaKI dalam sebuah system industri budaya masih belum terbebas dari tindakan-tindakan eksploitasi beberapa kepentingan yang mengatasnamakan “legal matters”. Khususnya di Papua, HaKI menjadi semacam alat yang digunakan bagi sekelompok orang untuk mengeksploitasi sumberdaya seni dan budaya di Papua. Kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa pemahaman terhadap HaKI yang hanya ada pada sebagian kecil kalangan intelektual dan pebisnis di Papua membuat system industri budaya di Papua lebih mirip sebuah proses pembodohan terhadap masyarakat Papua sebagai pemilik khasanah budaya Papua.
Menjamurnya Art Shop di berbagai daerah di Papua termasuk Mimika memperlihatkan kepada kita semua bagaimana Hak atas Kekayaan Intelektual orang Papua sebagai pemilik dan kreator tidak ditempatkan pada kedudukan yang seharusnya. Objek seni dan budaya berikut masyarakat Papua hanya menjadi pelengkap dari sebuah system industri budaya yang sedang berjalan di Papua ini. Modus yang paling sering dilakukan untuk menghindari tuntutan terhadap pengakuan HaKI adalah mengalihkan persepsi masyarakat dan terhadap benda seni dan budaya menjadi souvenir.
Dan meski kehadiran Art Shop ternyata memberikan dampak ekonomis yang cukup berarti juga bagi masyarakat di Papua dan Mimika, namun Art Shop seperti ini pada umumnya lebih bersifat sebagai “penadah”, bukan sebuah mekanisme pasar yang saling menguntungkan. Pengelolaan yang menggunakan manajemen tradisional (keluarga) mengakibatkan kedua pihak (Art Shop dan pengrajin) sama-sama tertutup matanya terhadap kedudukan HaKI dalam industri seperti ini.
Membentuk Centra Usaha Seni dan Budaya (Art Shop) dan Sanggar Seni
Data yang tercatat pada Dewan Kesenian Tanah Papua Kabupaten Mimika per Pebruari 2011 terdapat 27 (dua puluh tujuh) Sanggar Seni dan Tari. Sedangkan seniman yang berprofesi ukiran dan memahat sebanyak 6 (enam) kelompok. Jumlah pemahat yang diestimasi sebanyak 1.075 (Timika Express, 17 Maret2011).
Berdasarkan data tersebut, Mimika mempunyai potensi budaya yang harus dikembangkan melalui pembentukan Centra Usaha Seni dan Budaya (Art Shop) bagi seniman dan pemahat. Disamping itu perlu melakukan pembinaan secara kontinyu dengan memberikan kesempatan dan peluang bagi pemahat Kamoro pada tempat-tempat strategis, misalnya Air Port Moses Kilangin Timika, Kuala Kencana dan Kota Timika, untuk memperoleh hasil dari segi ekonomi juga sebagai sarana mempromosikan dan memperkenalkan khasanah budaya Mimika oleh Orang Asli Mimika. “ Kalau memang selama ini ada pemahat sebanyak itu di Timika, lalu kemana hasil karya mereka. Pemerintah sebaiknya membuka wadah bagi masyarakat yang memiliki talenta di bidang ukiran untuk dibina, dengan penyediaan pasar secara berkelanjutan” . (Allo Rafra, Radar Timika 16 Maret 2011).
Menurut, Piet S. Nawatipia bahwa memang harus diakui banyak patung-patung dan ukiran karya seniman Kamoro, Asmat yang dijual dengan harga yang sangat mahal di Art Shop kota Jayapura, Kuala Kencana dan di Mimika (non Kamoro). Namun yang memperoleh keuntungan justru pedagang cinderamata itu bukan pembuat patung atau seniman pahat yang hanya mendapat cucuran keringatnya saja. (, Timika Pos, 14 Oktober 2000).
Jadikan Festival Budaya sebagai Program Tahunan
Festival Budaya Kamoro sebagai program Tahunan adalah bentuk pewarisan budaya masyarakat Asli Mimika. Selain itu juga Festival akan membawa dampak yang positif dari segi pelestarian budaya dan wahana pemersatu antar manusia Kamoro dan Amungme serta dengan suku bangsa lainnya yang berdomisili di Mimika. Mimika memiliki potensi dan keragaman budaya sudah harus mengikuti jejaknya beberapa kabupaten di Papua yang melakukan festival secara rutin (tahunan) di antaranya Jayapura dengan Festival Danau Sentani dan Paniai dengan Festinal Danau Paniai.
Sudah saatnya semua pihak yang berkompeten (Pemerintah Daerah/Instansi terkait, swasta, Lembaga Adat dan Dewan Kesenian Tanah Papua Kabupaten Mimika) memikirkan langkah-langkah strategis dalam rangka melindungi dan melestarikan budaya etnik/suku bangsa Kamoro sebagai potensi dan asset daerah yang jika dikelolah dengan baik akan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan Pendapatan Asli Daerah, meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga seniman, mempertahankan jati diri etnik/suku bangsa Kamoro dan sebagai wahana memperkenalkan Daerah Mimika dan khasana budaya di tingkat Nasional dan Internasional. Semoga. (Penulis: Wakil Sekretaris Dewan Kesenian Tanah Papua Kabupaten Mimika dan Peminat masalah Etnobotani ) .

MELESTARIKAN NILAI BUDAYA Mempertahankan Jati Diri Etnik/Sukubangsa Kamoro Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ras Eko Budi Santoso

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.