Suka artikel kami jangan lupa di like ya
Follow juga
Minggu, 20 Maret 2011

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita menemukan permasalahan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Permasalahan ini akibat dari logika bahasa yang sering kali salah. Akibatnya pesan komunikasi tidak tersampaikan bahkan bisa berakibat fatal. Misperseptions. Pertanyaannya kemudia adalah, bagiamanakab kita berinteraksi yang baik dan benar? Tentunya kita sebagai mahkluk yang berfikir,Hayawanu al-natiq, bisa menggunakan potensi akal. Diantaranya adalah menggunakan logika.
Berangkat dari permasalahan diatas, pemakalah mencoba menjelaskan salah satu komponen ilmu logika yaitu Analogi sebagaimana akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

1. Pengetian Analogi
Analogi dalam bahasa indonesia ialah ‘kias’ (Arab: qasa = mengukur, membandingkan). Berbicara tentang analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan, yang satu bukan yang lain, dan dua hal yang berlainan itu dibandingkan yang satu dengan yang lain. Dalam mengadakan perbandingan, orang mencari persamaan dan perbedaan di antara hal-hal yang diperbandingkan. Contoh kalau lembu dibandingkan dengan kerbau, maka kedua-keduanya adalah binatang, akan tetapi yang satu berbeda dengan yang lain mengenai besarnya, warnanya dan sebagainya. Sarno dan sarni adalah kedua-keduanya adalah anak pak sastro, akan tetapi sarno laki-laki, sarni perempuan, sarno berumur 16 tahun, sarni 10 tahun dan seterusnya. Kalau dalam perbandingan itu orang hanya memperhatikan persamaannya saja, tanpa melihat perbedaannya, timbbullah analogi, persamaan di antara dua hal yang berbeda.
Analogi dapat dimanfaatkan sebagai penjelasan atau sebagai dasar penalaran. Sebagi penjelasan biasanya disebut perumpamaan atau persamaan.
Tumbuh-tumbuhan berbunga dan bunga itu merupakan perhiasan baginya. Bangsa itu bukan tumbuh-tumbuhan dan juga tidak berbunga, akan tetapi pejuang yang gugur dalam membela bangsanya, menjadi perhiasan bagi bangsanya, sehingga secara analogi dikatakan bahwa pejuang itu’ gugur sebagai kusuma bangsa’ .
Analogi kadang-kadang disebut juga analogi induktif yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain; demikian pengertian analogi jika kita hendak memformulasikan dalam suatu batasan. Dengan demikian dalam setiap tindakan penyimpulan analogik terdapat tiga unsure yaitu: peristiwa pokok yang menjadi dasar analogi, persamaan prinsipal yang menjadi pengikat bdan ketiga fenomena yang hendak kita analogikan.
Sebagian besar pengetahuan kita disamping didapat dengan generalisasi didapat dengan penalaran analogi. Contoh: Jika kita membeli sepasang sepatu (peristiwa) dan kita berkeyakinan bahwa sepatu itu akan enak dan awet dipakai (fenomena yang dianalogikan), Karena sepatu yang dulu dibeli di toko yang sama (persamaan prinsip) awet dan enak dipakai maka penyimpulan serupa adalah penalaran analogi. Begitu pula jika berkeyakinan bahwa buku yang baru saja kita beli adalah buku yang menarik karena kita pernah membeli buku dari pengarang yang sama yang ternyata menarik.
Contoh lain dari penyimpulan analogi adalah:
Kita mengetahui betapa kemiripan yang terdapat antara bumi yang kita tempati ini dengan planet-planet lain, seperti Saturnus, Mars, Yupiter, Venus dan Mercurius. Planet-planet ini kesemuanya mengelilingi matahari sebagaimana bumi. Planet-planet itu berputar pada porosnya sebagaimana bumi, sehingga padanya juga berlaku pergantian siang dan malam. Sebagiannya mempunyai bulan yang memberikan sinar manakala matahari tidak muncul dan bulan-bulan ini meminjam sinar matahari sebagaimana bulan pada bumi. Merka semua sama, merupakan subyek dari hukum gravitasi sebagaimana bumi. Atas dasar persamaan yang sangat dekat antara bumi dengan planet-planet tersebut maka kita tidak salah menyimpulkan bahwa kemungkinan besar planet-planet tersebut dihuni oleh berbagai jenis makhluk hidup.
2.Macam-macam Analogi
Macam analogi yang belah kita bicarakan diatas adalah analogi induktif yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan principal yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Bentuk argument ini sebagaimana generalisasi tidak pernah menghasilkan kebenaran mutlak.
Analogi disamping fungsi utamanya sebagai cara berargumentasi, sering benar dipakai dalam bentuk non-argurmen, yaitu sebagai penjelas. Analogi ini disebut analogi deklaratif atau analogi penjelas. Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum diketahui atau masih samar , dengan sesuatu yang sudah dikenal. Sejak zeman dahulu analogi deklaratif merupakan cara yang amat bermanfaat untuk menjelaskan masalah yang hendak diterangkan. Para penulis dapat dengan tepat mengemukakan isi hatinya dalam menekankan pengertian sesuatu.

Contoh analogi deklaratif adalah:
Ilmu pengetahuan itu dibangun oleh fakta-fakta sebagai –
Mana rumah itu dibangun oleh batu-batu. Tetapi tidak
semua kumpulan pengetahuan itu ilmu, sebagaimana
tidak semua tumpukan batu adalah rumah.

Di sini orang hendak menjelaskan sturuktur ilmu yang masih asing bagi pendengar dengan struktur lemah yang sudah begitu dikenal. Begitu pula penjelasan tentang hubungan antara pikiran dan otak yang masih samar dijelaskan dengan hubungan antara buah ginjal dan air seni.
Dalam setiap tindakan penyimpulan analogik terdapat tiga unsure, yaitu:
1. peristiwa pokok yang menjadi dasar analogi
2. persamaan prinsipal yang menjadi pengikat
3. fenomena yang hendak kita analogikan
Dari unsur-unsur tersebut akan muncul berbagai macam analogi; seperti:

1.Analogi Induktif
Analogi yang disusun berdasarkan persamaan prinsipal yang ada pada dua fenomena, kemudian menarik kesimpulan bahwa yang ada pada peristiwa pertama juga ada pada peristiwa kedua.
Contoh :
a. Sarno anak Pak Sastro adalah anak yang rajin dan jujur
b. Sarni anak Pak Sastro adalah anak yang rajin dan jujur
c. Sardi anak Pak Sastro adalah anak yang rajin dan jujur
d. Sarto adalah anak pak Sastro
Sarto anak Pak Sastro adalah anak yang rajin dan jujur
Berbeda dengan generalisasi induktif yang kesimpulannya berupa proposisi universal, konklusi analogi tidak selalu berupa proposisi universal, namun tergantung dari subyek yang diperbandingkan. Subyek analogi dapat individual, particular maupun universal. Tetapi sebagai penalaran induksi, konklusi yang ada lebih luas daripada premis-premisnya. Tiga anak pak sastro yang rajin dan jujur tidak dapat menjamin bahwa anaknya yang keempat juga rajin dan jujur.

2. Analogi Deklaratif
Analogi yang menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samara, dengan sesuatu yang dikenal.
Contoh :
Ilmu pengetahuan dibangun oleh fakta-fakta sebagaimana sebuah rumah dibangun oleh batu-batu. Tapi tidak semua kumpulan fakta adalah ilmu, sebagaimana tidak semua kumpulan batu adalah rumah.

3. Analogi Noninduktif (analogi logis)
a.“Hanya orang bijaksana yang menyukai puisi”. Kaliamat tersebut sama makna-
nya dengan “ semua orang bijaksana menyukai puisi”.
b. “hanya perempuanlah yang mengandung dan melahirkan anak”, kalimt tersebut
tidak sama dengan “ semua perempuan mengandung dan melahirkan anak”.
Kedua kalimat diatas mempunyai pola yang sama yaitu “ hanya…yang…”, namun analogi diatas bukan merupakan analogi induktif, karena kesimpulannya tidak bersifat empiris.
Artinya kesimpulan dari analogi noninduktif tidak dapat dikonfirmasi atau disangkal oleh bukti-bukti empiris. Namun analogi tersebut juga bukan analogi deduktif, karena argument deduktif dapat dinilai benar salahnya dengan mengacu paada bentuk logis tertentu atau definisi istilah yang digunakan. Oleh karena itu analogi ini dapat disebut analogi logis non induktif tapi juga nondeduktif .

3.Cara Penilaian Analogi Generalisasi
Sebagaimana g
eneraslisasi, kepercayaannya tergantung kepada terpenuhi atau tidaknya alat-alat ukur yang telah kita ketahui, maka demikian pula analogi. Untuk mengukur derajat kepercayaan sebuah analogi dapat diketahui dengan alat berikut:
1. Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan, semakin besar pula taraf kepercayaanya. Apabila pada suatu ketika saya mengirimkan baju saya pada seorang tukang penatu dan ternyata hasilnya tidak memuaskan, maka atas dasar analogi, saya bisa menyarankan kepada kawan saya untuk tidak mengirimkan pakaian kepada tukang penatu tadi.
2. Sedikit banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi. Contoh yang telah kita sebut tadi, yaitu tentang sepatu yang telah kita beli pada sebuah toko. Bahwa sepatu yang baru saja kita beli tentu akan awet dan enak dipakai karena sepatu yang dulu di beli ditoko ini juga awet dan enak dipakai. Analogi ini menjadi lebih kuat lagi misalnya diperhitungkan juga persamaan harganya, mereknya, dan bahannya.
3. Mempertimbangkan ada tidaknya unsur-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan. Semakain banyak pertimbangan atas unsure-unsurnya yang berbeda semakin kuat kepercayaan analoginya.
4. Relevan atau tidaknya masalah yang dianalogikan. Bila tidak relevan sudah barang tentu analoginyatidak kuat dan bahkan bisa gagal. Contoh; bila kita menyimpulkan bahwa mobil yang baru kita beli setiap liter bahan bakarnya akan menempuh 15 km berdasarkan analogi mobil B yang sama modelnya serta jumlah jendela dan tahun produksinya sama dengan mobil yang kita beli ternyata dapat menempuh 15 km setiap liter bahan bakarnya, maka analogi serupa adalah analogi yang tidak relevan. Seharusnya untuk menyimpulkandemikian harus didasarkan atas unsure-unsur yanag relevan yaitu banyaknya slinder, kekuatan daya tariknya serta berat dadri mobilnya
Dalam bukunya DR. W. poespoprodjo, SH.,S.S., B.Ph., L.Ph. dan Drs. EK. T. Gilarso “Logika Ilmu Menalar” juga memiliki cara peniaian analogi generalisai yaitu generalisasi tergesa-gesa. Kesalahan logis yang ini sekadar akibat dari induksi yang salah karena berdasar pad sampling hal-hal khusus yang tidak cukup, atau karena tidak memakai batasan (seperti: banyak, sering, kadang-kadang, jarang, hampir, selalu, didalam keadaan tertentu, beberapa, kebanyakan, sebagian besar, sejumlah kecil, dan lain sebagainya).
Sebagian orang (mungkin juga banyak jumlahnya), misalnya, mengatakan bahwa ‘semua pegawai negeri malas’. Berhubung pegawai negeri banyak, dan diantara mereka memang juga ada yang berpembawaan pemalas, maka banyak orang mungkin mempunyai kesan bahwa ‘pegawai negeri malas’. Tetapi, apabila orang-orang tersebut bersedia meneliti lebih seksama, maka mereka akan bersedia meralat ucapannya: ‘semua pegawai negeri malas’ menjadi, mislanya, ‘kebanyakan pegawai negeri malas’ , karena ternyata, menurut pengamatan, terdapat juga pegawi negeri yang tidak malas.
Generalisasi tergesa-gesa terjadi karena kecerobohan, tidak mempunyai dasar induktif yang sehat. Misalnya, ucapan atau ungkapan sebagai berikut:
1. Para mahasiswa menolak NKK beserta BKK-nya.
2. Guru-guru tidak sadar akan masalah-masalah yang paling mendesak dari murid-muridnya.
3. Kejahatan-kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini berlatar belakang politik.
4. Semua oran inggris kaku.
5. Tokoh-tokoh buruh menggunakan taktik penipuan dalam menarik anggota baru.

Jadi, analogi dalam bahasa indonesia ialah ‘kias’ (Arab: qasa = mengukur, membandingkan). Berbicara tentang analogi adalah berbicara tentang dua hal yang berlainan, yang satu bukan yang lain, dan dua hal yang berlainan itu dibandingkan yang satu dengan yang lain.
Analogi kadang-kadang disebut juga analogi induktif yaitu proses penalaran dari satu fenomena menuju fenomena lain yang sejenis kemudian disimpulkan bahwa apa yang terjadi pada fenomena yang pertama akan terjadi juga pada fenomena yang lain; demikian pengertian analogi jika kita hendak memformulasikan dalam suatu batasan.
Macam-macam analogi dibedakan menjadi dua yaitu;
1. Analogi induktif
2. Analogi deduktif
3. Analogi Noninduktif
Cara penilaian analogi generalisasi yaitu;
a. Sedikit banyaknya peristiwa sejenis yang dianalogikan, semakin besar pula taraf kepercayaanya.
b. Sedikit banyaknya aspek-aspek yang menjadi dasar analogi
c. Mempertimbangkan ada tidaknya unsur-unsur yang berbeda pada peristiwa yang dianalogikan. Semakain banyak pertimbangan atas unsur-unsurnya yang berbeda semakin kuat kepercayaan analoginya
d. Relevan atau tidaknya masalah yang dianalogikan. Bila tidak relevan sudah barang tentu analoginyatidak kuat dan bahkan bisa gagal.
2. Saran-saran
Kami selaku penulis makalah berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Dan kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharap saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan mkalah ini. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
Poedjawijatna, Logika filsafat berfikir, PT rineka cipta Jakarta, 2000
W. Poepoprodjo, Ek.T.Gilarso, Logika ilmu menalar,,PT Pustaka Grafika bandung 1999
H. Mundiri, Logika, PT Raja Grafindo persada kajarta, 2008
Http:/biancommunity, blogspot.com/2008/09/analogi apa-dan-bagaimana html
Soekadijo,R.G Logika Dasar, PT Gramedia pustaka utama, Jakarta, 1991
W. Poespopradjo, S.H. S,S. B.Ph, L,ph. Logika Scientifika, PT pustaka Grafika- Bandung, 2007

sumber: http://students.sunan-ampel.ac.id/

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan berkomentar dengan bijak, kami menon aktifkan kode capca agar anda nyaman berkomentar.

Tidak di perbolehkan menggunakan link aktif kalau mau iklan silahkan kontak kami, Trimakasih.

Terbantu oleh blog kami,
tulis komentarmu.
pada kolom komentar
atau pada postingan yang membantu anda
kami akan sangat berterimakasih.

jangan lupa juga
klik tombol berikut sebagai
apresiasi anda. trimakasih